Papua Selatan

Wagub Papua Selatan Minta HKTI Bela Petani, Rangkul OAP dan Jauhi Politik Praktis ‎

Avatar photo
×

Wagub Papua Selatan Minta HKTI Bela Petani, Rangkul OAP dan Jauhi Politik Praktis ‎

Sebarkan artikel ini
Social Share

‎MERAUKE || Cendrawasi7 – Wakil Gubernur Papua Selatan Paskalis Imadawa memberi pesan tegas kepada jajaran Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Papua Selatan. Organisasi petani itu diminta tidak berhenti pada konsolidasi kepengurusan, tetapi turun memperjuangkan nasib petani, memperbesar keterlibatan Orang Asli Papua (OAP) dalam sektor pertanian, serta menjaga independensi dari kepentingan politik praktis. Minggu (13/09/2026).

‎Pesan itu disampaikan Paskalis dalam Musyawarah Daerah (Musda) HKTI Provinsi Papua Selatan yang dirangkaikan dengan pelantikan pengurus HKTI periode 2026–2031 dari Kabupaten Merauke, Mappi, Boven Digoel dan Asmat.

‎Paskalis menilai HKTI memiliki visi dan misi yang baik. Namun, menurut dia, ukuran keberhasilan organisasi bukan terletak pada pelantikan maupun struktur kepengurusan, melainkan sejauh mana program tersebut benar-benar dirasakan petani di lapangan.

‎Ia meminta HKTI dibangun sebagai organisasi yang terbuka dan mampu merangkul masyarakat dari berbagai latar belakang. Perhatian khusus juga perlu diberikan untuk mendorong semakin banyak masyarakat asli Papua masuk dan berkembang di sektor pertanian.

‎”Harus merangkul. Sehingga HKTI ini akan menjadi wadah yang inklusif, wadah yang terbuka untuk semua etnis, semua agama, semua suku dan semua bahasa,” kata Paskalis.

‎Menurutnya, pembangunan pertanian Papua Selatan ke depan tidak boleh hanya bertumpu pada kelompok masyarakat yang selama ini telah mapan mengelola pertanian.

‎HKTI diminta memperluas pendampingan hingga kampung-kampung agar masyarakat asli Papua semakin terlibat dalam produksi pangan dan menjadi bagian penting dari kekuatan pertanian daerah.

‎”Munculkan dari orang-orang asli ketahanan pangan. Semoga perhatian kalian ke sana,” ujarnya.

‎Jangan Cuma Urus Organisasi, Bela Hak Petani

‎Paskalis kemudian mengingatkan tugas mendasar HKTI sebagai organisasi yang menaungi kepentingan petani. HKTI, kata dia, harus berada di depan ketika petani menghadapi persoalan menyangkut hak maupun kesejahteraan.

‎”Yang patut diperjuangkan itu adalah hak dan nasib petani. Hak-hak dan nasib petani ini yang wajib diperjuangkan,” tegas Paskalis.

‎Pesan tersebut dinilai semakin penting karena Papua Selatan memiliki posisi strategis dalam pengembangan pangan. Potensi lahan yang besar dan berbagai program pembangunan pertanian harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani serta perlindungan kepentingan masyarakat lokal.

‎Paskalis mengingatkan pengurus HKTI bakal berhadapan dengan berbagai dinamika di lapangan, mulai dari optimalisasi lahan, program strategis nasional (PSN), pemanfaatan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR hingga persoalan hak ulayat masyarakat adat.

‎Dalam kondisi tersebut, HKTI diharapkan tidak sekadar menjadi penonton. Organisasi harus mampu menjembatani agenda pembangunan pertanian dengan kepentingan petani dan masyarakat adat.

‎Paskalis: HKTI Jangan Dibawa ke Ranah Politik

‎Pesan lain yang ditekankan Paskalis adalah menjaga independensi organisasi. Ia meminta HKTI tidak dijadikan kendaraan untuk kepentingan politik praktis maupun kelompok tertentu.

‎”HKTI jangan dibawa ke ranah politik. Biarkan dia menjadi wadah independen yang tidak terlibat dalam partai politik apa pun dan juga alat politik apa pun,” katanya.

‎Menurutnya, energi pengurus HKTI harus diarahkan pada persoalan yang memang menjadi mandat organisasi, yakni petani, pertanian dan pangan.

‎”HKTI ini adalah pengurus petani, dia berjuang untuk pertanian, pangan ini, dia berjuang di situ,” ujarnya.

‎DPP HKTI Ingatkan Tujuan Besar Organisasi

‎Wakil Ketua Umum DPP HKTI Manimbang Kahariadi juga mengingatkan pengurus yang baru dilantik agar tidak kehilangan arah setelah menerima mandat organisasi.

‎Ia mengibaratkan perjalanan HKTI seperti sebuah penerbangan. Pengurus harus mengetahui tujuan yang hendak dicapai sekaligus siap menghadapi berbagai “guncangan” selama perjalanan.

‎”Dan kita ingat tujuan kita itu adalah memajukan pertanian Indonesia dan memajukan petani Indonesia,” kata Manimbang.

‎Manimbang menilai Papua Selatan memiliki potensi pertanian yang besar. Kekompakan pengurus yang terlihat saat pelantikan diharapkan menjadi modal untuk membangun organisasi sekaligus menjawab persoalan yang dihadapi petani.

‎HKTI juga didorong memperkuat kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan), serta membuka kerja sama dengan pemerintah, dunia usaha dan berbagai pihak yang berkaitan dengan pembangunan pertanian.

‎”Jaga visi organisasi dan penampilan dengan kekompakan. Penampilan tadi dengan kompak dan luar biasa sekali, akan membawa organisasi ini menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.

‎Empat Kabupaten Punya Kepengurusan Baru

‎Ketua Panitia Agus Muslim mengatakan Musda dan pelantikan menjadi bagian dari konsolidasi HKTI di Papua Selatan, sekaligus memperkuat koordinasi organisasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha dan instansi ‎yang bergerak di sektor pertanian.

‎Pelantikan dilakukan setelah pembacaan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Nasional HKTI yang ditetapkan di Jakarta pada 9 September 2026.

‎Untuk Kabupaten Merauke, kepengurusan HKTI periode 2026–2031 dipimpin Bino sebagai ketua, Husaini sebagai sekretaris dan Nana sebagai bendahara.

‎Di Kabupaten Mappi, Atsar Abbas dipercaya sebagai ketua, didampingi Thahirullah sebagai sekretaris dan Marcelinus Kaina Kaimu sebagai bendahara.

‎Sementara kepengurusan HKTI Kabupaten Boven Digoel dipimpin Jaya Arbiansyah sebagai ketua, Sabinus Kenda Welo sebagai sekretaris dan Sapri Taku sebagai bendahara.

‎Adapun Kabupaten Asmat dipimpin Edward Pasauran sebagai ketua, Asbin Amir sebagai sekretaris dan Asrul Amir sebagai bendahara.

‎Musda dan pelantikan tersebut turut dihadiri Asisten II Setda Papua Selatan Sunario, jajaran DPP HKTI, tim karateker DPD HKTI Papua Selatan Sularso, unsur legislatif, TNI-Polri, instansi pemerintah, kelompok tani dan gapoktan.

‎Kini tantangan pengurus baru HKTI bukan lagi sekadar melengkapi struktur organisasi. Mereka dituntut membuktikan keberadaan HKTI melalui kerja nyata: memperjuangkan hak petani, memperkuat kelompok tani, membuka ruang lebih luas bagi petani asli Papua, sekaligus memastikan besarnya agenda pembangunan pangan di Papua Selatan ikut bermuara pada kesejahteraan masyarakat lokal. (C7)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page