MERAUKE || Cendrawasi7 – Ribuan kilometer memisahkan Merauke dan Amerika Serikat. Namun jarak itu tak menghentikan langkah Aurellia Viona Awom dan Veronika Yeem mengejar pendidikan dan mimpi mereka. Kamis (27/08/2026).
Berangkat melalui program beasiswa, dua anak muda Papua Selatan itu kini kembali ke tanah kelahiran dengan membawa gelar sarjana, pengalaman internasional, serta pesan bagi generasi muda: anak-anak Papua Selatan juga mampu menembus batas dan bersaing di dunia.
Aurel dan Vero merupakan penerima beasiswa program Siswa Unggul Papua yang pembiayaannya kini dilanjutkan Pemerintah Provinsi Papua Selatan setelah pemekaran dari Provinsi Papua.
Keduanya sama-sama lahir di Merauke. Aurel, kelahiran 2 Juli 2001, menyelesaikan pendidikan di University of Wyoming, Amerika Serikat, dan meraih gelar Bachelor of Science (B.S.) bidang Business Management dengan minor Professional Sales.
Sementara Vero, kelahiran Merauke, 2 Februari 2002, menamatkan pendidikan di Western Michigan University dan meraih gelar Bachelor of Arts (B.A.) bidang Global and International Studies.
Keduanya menyelesaikan studi pada Mei 2025. Namun perjalanan mereka di Negeri Paman Sam tak langsung berakhir. Aurel dan Vero memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh pengalaman kerja selama kurang lebih satu tahun sebelum akhirnya kembali ke Merauke.
Dari Merauke, Belajar Menembus Batas
Perjalanan menuju Amerika tidak ditempuh secara instan. Semuanya bermula pada 2020 ketika Aurel dan Vero mengikuti pembinaan bahasa Inggris selama sekitar satu tahun di Jakarta.
Setelah itu, keduanya melanjutkan pendidikan di Jakarta International College sebagai bagian dari persiapan sebelum melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Amerika Serikat pada Januari 2023.
Bagi Aurel, beasiswa tersebut menjadi kesempatan besar yang mengubah perjalanan hidupnya. Bukan hanya membuka jalan menuju pendidikan internasional, tetapi juga memberinya kesempatan melihat dunia dari perspektif yang lebih luas.
“Menurut saya ini kesempatan yang sangat luar biasa dan membuat saya belajar banyak hal, terutama secara internasional,” kata Aurel.
Kesempatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi penghalang bagi anak muda untuk mendapatkan pendidikan terbaik.
Sementara bagi Vero, hidup dan belajar di Amerika menghadirkan tantangan tersendiri. Perbedaan bahasa, budaya, hingga pola komunikasi di lingkungan akademik membuatnya harus cepat beradaptasi.
Meski telah mendapat pembekalan bahasa Inggris sebelum berangkat, berkomunikasi langsung dalam kehidupan sehari-hari maupun lingkungan kampus tetap menjadi pengalaman berbeda.
Di tengah proses adaptasi itu, keberadaan komunitas mahasiswa Papua dan Indonesia menjadi salah satu kekuatan bagi mereka.
“Kami sangat bersyukur karena di sana ada komunitas Papua dan anak-anak Indonesia. Kami sama-sama saling membantu,” ujar Vero.
Pulang Tak Sekadar Membawa Ijazah
Setelah menyelesaikan perjalanan panjang tersebut, Aurel dan Vero kini kembali menginjakkan kaki di Papua Selatan. Namun kepulangan mereka tidak ingin sekadar dimaknai sebagai akhir perjalanan kuliah.
Keduanya berharap ilmu, wawasan dan pengalaman yang diperoleh selama berada di luar negeri dapat memberikan manfaat bagi anak-anak muda Papua Selatan.
“Bukan hanya ijazah yang kami bawa, tetapi juga wawasan dan daya saing. Kami ingin berbagi kepada teman-teman di sini agar tetap semangat,” kata Vero.
Pengalaman Vero bekerja pada sebuah organisasi yang menangani tunawisma di Kalamazoo, Michigan, misalnya, membuatnya melihat persoalan sosial dari perspektif yang lebih luas.
Menurut Vero, tidak semua hal yang dipelajari di Amerika harus diterapkan begitu saja di Papua Selatan. Namun berbagai praktik baik yang relevan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.
Salah satunya adalah memperluas akses informasi mengenai pendidikan dan beasiswa agar semakin banyak anak muda Papua Selatan mengetahui peluang untuk melanjutkan pendidikan.
Vero berharap para alumni yang pernah menempuh pendidikan di luar Papua maupun luar negeri dapat turun langsung ke sekolah-sekolah. Mereka dapat berbagi pengalaman sekaligus memberikan gambaran kepada para pelajar bahwa kesempatan menembus perguruan tinggi terbaik bukan sesuatu yang mustahil.
“Mungkin kami bisa berbagi langsung ke sekolah-sekolah, memberikan motivasi. Hal-hal kecil tapi berdampak,” ujarnya.
Aurel dan Vero juga belum ingin berhenti belajar. Keduanya masih menyimpan keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan mulai mencari peluang beasiswa untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.
Pemprov Papua Selatan Biayai 9 Mahasiswa di Luar Negeri
Di balik perjalanan Aurel dan Vero, Pemerintah Provinsi Papua Selatan menegaskan komitmennya melanjutkan dukungan pendidikan bagi generasi muda, terutama Orang Asli Papua (OAP).
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Selatan Dr. Paskalis Prayitno, AP., M.Si., menjelaskan program Siswa Unggul Papua merupakan kelanjutan program yang sebelumnya dikelola Pemerintah Provinsi Papua.
Setelah Papua Selatan menjadi provinsi baru, pembiayaan mahasiswa asal wilayah tersebut menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Papua Selatan.
“Setelah pemekaran Provinsi Papua Selatan dari Provinsi Papua, pembiayaan penerima beasiswa menjadi tanggung jawab dan komitmen Pemerintah Provinsi Papua Selatan,” ujarnya.
Saat ini, Pemprov Papua Selatan membiayai sembilan mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar negeri. Dua di antaranya adalah Aurel dan Vero yang telah menyelesaikan studi dan kembali ke Merauke.
Selain program luar negeri, pemerintah juga memberikan dukungan kepada ratusan mahasiswa yang menempuh pendidikan di dalam negeri. Data sementara mencatat dua kelompok penerima masing-masing sebanyak 146 dan 119 mahasiswa. Jumlah tersebut masih akan disesuaikan dengan data administrasi program.
Pesan untuk Anak Muda: Persiapkan Diri
Kisah Aurel dan Vero diharapkan tidak berhenti sebagai cerita keberhasilan dua anak muda. Pemerintah ingin perjalanan keduanya menjadi pemantik semangat bagi lebih banyak pelajar Papua Selatan untuk berani bermimpi lebih jauh.
Paskalis menegaskan Pemprov Papua Selatan, khususnya Gubernur Papua Selatan, tetap berkomitmen membuka kesempatan pendidikan bagi generasi muda, terutama OAP.
“Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh anak kita berdua ini, kami dari Pemerintah Provinsi Papua Selatan, khususnya Bapak Gubernur, tetap konsisten untuk memberikan beasiswa bagi anak-anak Papua Selatan dan terlebih khusus anak-anak asli Papua Selatan untuk mendapatkan pelayanan beasiswa yang baik,” katanya.
Karena itu, generasi muda diminta tidak sekadar menunggu kesempatan datang. Mereka harus mempersiapkan diri sejak dini dengan meningkatkan kemampuan akademik, bahasa, kedisiplinan, serta keberanian untuk bersaing.
“Kepada adik-adik yang di luar sana, saya berharap bisa lebih meningkatkan kualitas diri, lebih rajin belajar, sehingga pada waktunya apabila ada rekrutmen atau tes untuk beasiswa, adik-adik juga mendapatkan kesempatan yang sama,” ujarnya.
Pemprov juga berharap Aurel dan Vero dapat menjadi jembatan pengetahuan bagi generasi muda Papua Selatan.
“Berikan hal-hal baik yang ada di Amerika untuk adik-adik di sini, sehingga mereka yang tidak sempat memperoleh kesempatan yang sama juga bisa mendapatkan hal-hal baik yang sudah adik berdua dapatkan,” tuturnya.
Perjalanan Aurel dan Vero menunjukkan bahwa tempat seseorang memulai bukanlah batas sejauh mana ia dapat melangkah. Dari Merauke, keduanya terbang melintasi benua, beradaptasi dengan bahasa dan budaya berbeda, menyelesaikan pendidikan, hingga memperoleh pengalaman kerja di Amerika Serikat.
Kini keduanya pulang. Bukan sekadar membawa gelar di belakang nama, tetapi juga membawa pengalaman dan harapan baru—agar semakin banyak anak Papua Selatan berani mengejar mimpi, menembus batas, dan suatu hari kembali untuk membangun tanah kelahirannya. (*)





