Papua Selatan

Setahun Usai Terbakar, 84 Siswa SMPN Erambu Kembali Punya Asrama di Perbatasan RI-PNG

Avatar photo
×

Setahun Usai Terbakar, 84 Siswa SMPN Erambu Kembali Punya Asrama di Perbatasan RI-PNG

Sebarkan artikel ini
Social Share

MERAUKE || Cendrawasi7 – Setahun setelah kebakaran menghanguskan asrama mereka, puluhan pelajar SMP Negeri Erambu di Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, akhirnya kembali memiliki tempat tinggal untuk menunjang pendidikan di kawasan perbatasan RI-Papua Nugini (PNG).

‎

‎Asrama baru SMPN Erambu tersebut diresmikan Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze, Kamis (27/8/2026). Kehadiran fasilitas itu menjadi penting karena sekolah tersebut tidak hanya menampung anak-anak dari Kampung Erambu, tetapi juga pelajar dari sejumlah kampung di sekitarnya.

‎

‎Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke Romanus Kande Kahol mengatakan, pembangunan asrama dilakukan selama kurang lebih empat bulan, sejak Mei hingga Agustus 2026.

‎

‎Bangunan tersebut memiliki tiga ruangan serta dilengkapi kamar mandi dan dapur untuk menunjang kebutuhan siswa selama tinggal di asrama.

‎

‎Kepala SMPN Erambu Dance W. Bully menyebut sebanyak 84 siswa laki-laki dan perempuan akan menempati asrama tersebut.

‎

‎Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze mengatakan pembangunan kembali asrama merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah memastikan anak-anak yang tinggal di wilayah perbatasan tetap memperoleh akses pendidikan yang layak.

‎

‎Menurut Yoseph, pendidikan menjadi salah satu prioritas pembangunan karena kemajuan daerah sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya.

‎

‎“Tidak ada cara lain untuk memajukan daerah kita, cuma melalui pendidikan,” kata Yoseph.

‎

‎Ia mengatakan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBD harus dimanfaatkan secara maksimal. Anggaran itu tidak hanya digunakan untuk kebutuhan tenaga pendidik dan operasional pendidikan, tetapi juga pembangunan fasilitas sekolah.

‎

‎“Dari 20 persen itu kita bagi-bagi, ada untuk tenaga kependidikan, gaji guru dan lain sebagainya, ada untuk infrastruktur, pembangunan sekolah, asrama dan lain sebagainya,” ujarnya.

‎

‎Menurut Yoseph, keberadaan asrama di Erambu memiliki peran strategis karena siswa yang bersekolah di sana datang dari beberapa kampung. Dengan fasilitas tersebut, anak-anak diharapkan dapat tinggal lebih dekat dengan sekolah dan lebih fokus menjalani pendidikan.

‎

‎“Kita bangun asrama ini karena yang sekolah di sini bukan hanya anak-anak kita dari Erambu, tetapi juga dari beberapa kampung lainnya. Sekolah ini dibangun pemerintah untuk semua,” katanya.

‎

‎Yoseph meminta kepala sekolah dan para guru tidak hanya memberikan pendidikan akademik, tetapi juga mendampingi dan membentuk karakter siswa. Disiplin, menurut dia, menjadi bagian penting dalam mempersiapkan anak-anak memasuki masa depan.

‎

‎Ia juga mengajak orang tua memberikan dukungan kepada guru dalam mendidik anak, termasuk ketika siswa mendapat teguran sebagai bagian dari proses pembentukan kedisiplinan.

‎

‎Selain itu, Yoseph meminta anak-anak di wilayah perbatasan tidak membatasi cita-cita hanya menjadi aparatur sipil negara. Menurutnya, pendidikan seharusnya membuka kesempatan bagi generasi muda mengenal beragam profesi sesuai minat dan kemampuan mereka.

‎

‎“Pendidikan formal itu bukan untuk mencetak seorang pegawai saja. Masih banyak profesi lain. Ada guru, insinyur, ahli bangunan, pengusaha dan berbagai profesi lainnya,” katanya.

‎

‎Pemkab Merauke, lanjut Yoseph, juga mendorong pengenalan berbagai profesi kepada anak sejak dini agar mereka dapat menemukan minat dan menentukan jalur pendidikan yang sesuai, baik melalui SMA, SMK maupun perguruan tinggi.

‎

‎Di sisi lain, ia menekankan pentingnya pendidikan berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal. Generasi muda, kata dia, perlu tetap mengenal tarian, nyanyian serta nilai-nilai budaya yang diwariskan masyarakat setempat.

‎

‎Yoseph pun mengingatkan orang tua agar tidak menghentikan pendidikan anak hanya karena merasa kasihan ketika harus tinggal jauh dari keluarga.

‎

‎“Kita sayang anak, tetapi jangan sampai rasa sayang itu justru memutus atau mengurangi masa depan mereka. Biarkan mereka sekolah supaya menjadi orang yang berguna bagi kita semua,” tegasnya.

‎

‎Dengan beroperasinya kembali asrama SMPN Erambu, 84 siswa kini memiliki tempat tinggal untuk mendukung aktivitas belajar mereka di salah satu wilayah perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

‎

‎Pemkab Merauke berharap fasilitas tersebut bukan sekadar menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak perbatasan untuk belajar, membangun karakter dan mempersiapkan masa depan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page