viral

Rekaman CCTV Penangkapan Ketua PETIR JS Beredar, Kejanggalan Rekayasa Menguat

Avatar photo
67
×

Rekaman CCTV Penangkapan Ketua PETIR JS Beredar, Kejanggalan Rekayasa Menguat

Sebarkan artikel ini
Social Share

PEKANBARU||Cendrawasi7.com, Detik-detik penangkapan Ketua Umum Pemuda Tri Karya (PETIR), Jekson Sihombing, di sebuah hotel di Pekanbaru, Riau, menjadi sorotan publik setelah video rekamannya beredar luas.

Aksi yang dilakukan oleh sejumlah orang berbadan tegap yang diduga dari tim opsnal dibawah kepolisian Kapolda Riau pada Selasa (14/10/2025) sore itu, diwarnai sejumlah kejanggalan yang memunculkan tudingan penjebakan, dilansir dari laman SerojaNews.com.

Penangkapan terjadi sekitar pukul 17.00 WIB di Hotel Furaya, Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Senapelan. Dalam video berdurasi hampir tiga menit itu, terlihat Jekson disergap secara tiba-tiba saat hendak menaiki lift, tak lama setelah pertemuan singkatnya dengan Nuryanto Hamzah, seorang manajer senior yang diklaim berasal dari perusahaan sawit First Resources berkantor Singapore

Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi, penangkapan ini dikaitkan dengan tuduhan pemerasan. Namun, analisis terhadap video tersebut mengungkap beberapa hal yang dinilai janggal.

Pertama, dalam rekaman tidak terlihat adanya transaksi atau penyerahan uang senilai Rp150 juta sebagaimana jumlah uang yang disebutkan. Barang bukti yang ditemukan dari Jekson hanya berupa perlengkapan pribadi dan obat-obatan.

Kedua, terlihat seorang pria berbaju putih yang sebelumnya berada di dalam restoran bersama mereka, ikut keluar dan tampak terlibat aktif dalam koordinasi penangkapan. Hal ini menguatkan dugaan bahwa pria tersebut berperan sebagai informan yang mengatur strategi.

Ketiga, Nuryanto Hamzah yang juga sempat ditahan, justru dibebaskan oleh Polda Riau hanya dalam hitungan jam, sementara Jekson Sihombing ditetapkan sebagai tersangka.

Pertemuan di hotel itu sendiri disebut-sebut merupakan inisiatif Nuryanto untuk menawarkan “perdamaian” dan meminta Jekson membatalkan aksi unjuk rasa. Aksi yang dimaksud berkaitan dengan dugaan korupsi yang dilaporkannya ke Kejaksaan Agung pada November 2024 lalu atas dugaan penggemplangan pajak senilai 1,4 Triliun dan isu dugaan korupsi dana BPDPKS senilai 57 Triliun yang melibatkan sejumlah perusahaan sebelumnya dalam tahap penyidikan.

“Pola ini terlihat mencurigakan. Rekan kami diimingi dalam sebuah pertemuan yang dijanjikan sebagai mediasi, lalu tiba-tiba ditangkap dengan tuduhan pemerasan, seakan diatur sedemikian rupa. Aroma upaya kriminalisasi terhadap aktivis yang vokal sangat kental,” demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pengamat hukum, Darwin Natalis Sinaga, S.H., kepada redaksi, Rabu (12/11/2025).

Serojanews.com belum dapat memperoleh rekaman cctv dimana keduanya bertemu didalam restoran. Menurut informasi, rekaman cctv disebutkan dinyatakan telah terhapus oleh pihak hotel. Namun jurnalis masih berupaya mengkonfirmasi kebenaran tersebut.

Berdasarkan informasi, Ormas ini dikenal vokal menyuarakan isu korupsi. Ormas ini tercatat pernah melaporkan Dugaan Pelanggaran Pajak dan Penguasaan Lahan sejumlah perusahaan di bawah naungan First Resources/Surya Dumai Group (SDG) ke Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) terkait dugaan kebocoran pajak dan penguasaan lahan tanpa izin.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page