Papua Selatan

Konsultasi Publik BIAN Project, Konservasi dan Kesejahteraan Warga Jadi Fokus

Avatar photo
×

Konsultasi Publik BIAN Project, Konservasi dan Kesejahteraan Warga Jadi Fokus

Sebarkan artikel ini
Social Share

Merauke, Cendrawasi7.com – Pelestarian kawasan konservasi Danau Bian dan pemberdayaan masyarakat menjadi perhatian dalam konsultasi publik BIAN Project yang digelar PT Bio Inti Agrindo (BIA). Pemerintah Kabupaten Merauke mendorong kedua upaya tersebut berjalan beriringan agar manfaatnya dirasakan warga.

‎

‎Kegiatan berlangsung di Swiss-Belhotel Merauke, Papua Selatan, Rabu (7/10/2026). Dalam sambutannya, Wakil Bupati Merauke menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi masyarakat di delapan kampung binaan PT BIA.

‎

‎Ia mengatakan program pemberdayaan harus mendukung kemandirian warga dengan mengedepankan transparansi, keadilan, serta penghormatan terhadap hak masyarakat dan kearifan lokal.

‎

‎“Pemberdayaan masyarakat tidak cukup dilakukan melalui bantuan sesaat. Kita perlu memberikan pendampingan secara berkelanjutan dengan mengedepankan transparansi dan keadilan,” kata Wabup.

‎

‎Menurutnya, konsultasi publik perlu menghasilkan langkah nyata melalui kerja sama pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Ia meminta kepala kampung serta kepala distrik memanfaatkan forum tersebut untuk menyampaikan aspirasi dan kebutuhan warga.

‎

‎Pemkab juga mendorong penguatan pendidikan serta pengembangan ekonomi lokal. Salah satu yang menjadi perhatian ialah pendampingan petani karet, termasuk dukungan pemasaran hasil usaha mereka.

‎

‎“Masyarakat tentu berharap hasil usaha mereka dapat dipasarkan sehingga roda ekonomi terus berputar dan manfaatnya dapat dirasakan secara langsung,” ujarnya.

‎

‎Sementara itu, Presiden Direktur PT BIA Kong Byoung Sun mengatakan pelestarian lingkungan dan penguatan kapasitas masyarakat merupakan bagian penting dalam pengelolaan perusahaan yang berkelanjutan.

‎

‎Menurut Kong, forum yang berlangsung sejak 2021 itu menjadi ruang untuk mengevaluasi berbagai program, menyerap masukan warga, dan membahas langkah bersama ke depan.

‎

‎Ia menyebut kekeringan berkepanjangan membawa tantangan bagi operasional perusahaan maupun kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut membutuhkan kerja sama yang lebih kuat untuk menjaga hutan dan sumber daya air, mencegah kebakaran, serta melindungi habitat satwa liar.

‎

‎“Pengetahuan, pengalaman, dan keterlibatan masyarakat setempat menjadi landasan kuat bagi kegiatan konservasi, terutama dalam menghadapi kekeringan dan risiko kebakaran,” kata Kong.

‎

‎Ia menjelaskan, upaya tersebut dijalankan melalui kegiatan Masyarakat Mitra Polhut, Masyarakat Peduli Api, serta pemantauan keanekaragaman hayati bersama pemerintah dan masyarakat.

‎

‎PT BIA juga terus menjalankan program ekonomi, pendidikan, dan kesehatan di delapan kampung sekitar Suaka Margasatwa Danau Bian. Kong mengatakan aspirasi warga menjadi masukan untuk menyempurnakan program agar pelestarian lingkungan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan.

‎

‎Dalam kesempatan yang sama, Johny Santoso dari BKSDA Papua mengingatkan pentingnya kawasan Danau Bian sebagai penyangga kehidupan dan habitat keanekaragaman hayati. Menurutnya, kerusakan kawasan tersebut akan berdampak pada lingkungan sekaligus kehidupan masyarakat di sekitarnya.

‎

‎Johny menekankan bahwa hubungan masyarakat adat dengan sumber daya alam yang telah berlangsung sejak lama harus dihormati. Karena itu, masyarakat pemilik hak ulayat perlu dilibatkan dalam pengelolaan kawasan konservasi.

‎

‎“Kami berharap masyarakat tetap menjadi subjek sekaligus mitra dalam pengelolaan Sungai Bian,” ujarnya.

‎

‎Johny berharap konsultasi publik membuka ruang diskusi bagi seluruh pihak untuk menyampaikan pandangan dan masukan dalam memperkuat pengelolaan kawasan Sungai Bian. (C7)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page