MERAUKE ||Cendrawasi — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Barisan Merah Putih (BMP) Kabupaten Merauke menggelar Seminar Dalam Rangka Hari Tani Nasional dengan tema “Peran Pemuda Mengawal Pemberdayaan Masyarakat Adat dalam Program Ketahanan Pangan di Kabupaten Merauke”, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Megaria Hotel Gedung Hall A, Jalan Raya Mandala, Kabupaten Merauke, tersebut dipimpin Ketua DPC BMP Kabupaten Merauke, Viktor Kaisepo, dan menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur masyarakat adat, petani Orang Asli Papua (OAP), serta organisasi kepemudaan.

Seminar tersebut menjadi ruang dialog antara pemuda, masyarakat adat, petani OAP, organisasi kepemudaan, mahasiswa dan berbagai unsur masyarakat untuk membahas peluang, tantangan serta bentuk keterlibatan masyarakat dalam pembangunan ketahanan pangan di Kabupaten Merauke.
Dalam sambutannya, Viktor Kaisepo mengatakan Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk memperkuat perhatian terhadap petani, masyarakat adat sebagai pemilik lahan, pemuda, serta seluruh masyarakat dalam pembangunan sektor pertanian.
Menurut Viktor, Kabupaten Merauke memiliki posisi penting dalam agenda ketahanan pangan. Namun, pembangunan ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan luas lahan, produksi maupun pembangunan infrastruktur.

“Masyarakat adat sebagai pemilik wilayah dan lahan harus dilibatkan sebagai subjek dan pelaku pembangunan, bukan hanya sebagai penerima program,” ujar Viktor.
Ia menekankan bahwa program ketahanan pangan perlu membuka ruang bagi masyarakat adat untuk meningkatkan kapasitas, mengembangkan potensi ekonomi dan memperoleh manfaat nyata dari pembangunan yang berlangsung di wilayah mereka.
Viktor juga mendorong pemuda untuk berani menyampaikan kritik, melakukan pengawasan sekaligus menjadi bagian dari solusi serta menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat, pemerintah dan pihak-pihak terkait.

Sementara itu, Ketua KNPI Kabupaten Merauke, David B. Kainakaimu, menekankan pentingnya keterlibatan pemuda dalam berbagai program pemerintah, khususnya program ketahanan pangan yang sedang berjalan di Kabupaten Merauke.
Menurut David, organisasi kepemudaan memiliki tanggung jawab untuk mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu mengambil peran dan memberikan dampak bagi masyarakat.
Pemuda, kata dia, perlu memanfaatkan pendidikan, keterampilan dan kemampuan yang dimiliki untuk mengambil peluang di sektor pertanian, ekonomi maupun bidang pembangunan lainnya.
David juga mendorong pemerintah untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada pemuda agar memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk memperoleh pekerjaan dan meningkatkan ekonomi keluarga.
Ia menegaskan bahwa anak-anak Papua memiliki kemampuan dan potensi untuk berkembang sehingga perlu diberikan kesempatan untuk mendapatkan keterampilan dan bersaing di berbagai bidang.
Menurut David, ketahanan pangan juga perlu dilihat secara luas dan tidak hanya berfokus pada komoditas padi, tetapi mencakup cabai, jagung, ubi-ubian dan berbagai komoditas lainnya yang dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan masyarakat.
Dari sisi masyarakat adat, Robertus Samkakai, Ketua Marga Samkakai Kampung Urumb sekaligus Petani OAP, menjelaskan bahwa program cetak sawah sebelumnya telah disosialisasikan kepada masyarakat adat sehingga pembukaan lahan dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan pemilik tanah.
Robertus mengatakan masyarakat adat di Kampung Urumb melihat pengelolaan lahan menjadi sawah sebagai peluang untuk memberikan manfaat ekonomi dibandingkan lahan dibiarkan tidak dikelola.
Ia menyebut keterlibatan masyarakat dalam sektor pertanian telah memberikan perubahan terhadap kondisi ekonomi keluarga. Hasil pertanian tidak hanya digunakan sebagai sumber pendapatan, tetapi juga menjadi persediaan pangan keluarga.
Menurutnya, masyarakat yang sebelumnya harus mencari kebutuhan pangan dari hari ke hari kini dapat memiliki stok beras di rumah.
Robertus juga mendorong agar pertanian terus dikembangkan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemuda, termasuk membuka kesempatan kerja sebagai operator alat berat maupun pekerjaan lainnya yang muncul dari kegiatan pertanian.
Sementara itu, Fransiskus Saverius, Petani OAP sekaligus Ketua Marga Ndiken Kampung Kumbe, membagikan pengalaman dalam mengembangkan lahan ulayat yang dimilikinya.
Fransiskus menjelaskan dirinya memiliki hak ulayat sekitar 600 hektare di Kampung Kumbe dan sebagian lahan tersebut dikembangkan melalui program pertanian dan cetak sawah.
Menurutnya, program tersebut memberikan perubahan terhadap kondisi ekonomi keluarga. Dari sebelumnya membeli beras, kini dirinya dapat menghasilkan sekaligus menyimpan persediaan pangan sendiri.
Ia juga menyampaikan bahwa pengelolaan sawah memberikan pendapatan melalui penyewaan lahan kepada petani. Menurut keterangannya, pendapatan tersebut mencapai sekitar Rp2,5 juta per hektare per tahun.
Hasil yang diperoleh kemudian digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, membeli kendaraan dan membangun aset.
Meski demikian, Fransiskus mengakui sektor pertanian masih menghadapi sejumlah kendala, terutama faktor alam seperti banjir, cuaca dan kondisi lahan yang dapat memengaruhi hasil panen.
Ia mengajak masyarakat, khususnya pemuda OAP, untuk tidak memandang rendah pekerjaan sebagai petani dan melihat sektor pertanian sebagai salah satu peluang ekonomi yang dapat dikembangkan.
Dalam sesi tanggapan, Bendahara KNPI Merauke, Maria Tuwayok, menekankan agar masyarakat, khususnya pemuda, tidak malu menjadi petani.
Menurut Maria, sektor pertanian dapat menjadi sumber penghasilan dan usaha yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Ketua GMKI Merauke, Natalis Walilo, menekankan pentingnya pelibatan masyarakat adat dalam program ketahanan pangan.
Natalis juga mendorong pengawalan terhadap pembukaan dan pengelolaan lahan agar tidak merugikan masyarakat adat. Menurutnya, hasil diskusi dalam seminar perlu didokumentasikan sebagai data dan bahan rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat adat dan ketahanan pangan di Kabupaten Merauke.
Seminar tersebut juga diikuti oleh perwakilan Pemuda Katolik, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), mahasiswa Universitas Musamus, perwakilan BETA, para petani OAP, organisasi kepemudaan, serta pengurus dan anggota DPC BMP Kabupaten Merauke.
Melalui seminar tersebut, DPC BMP Kabupaten Merauke mendorong agar pembangunan ketahanan pangan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan masyarakat adat dan pemuda mendapatkan ruang untuk terlibat, mengembangkan kapasitas, serta memperoleh manfaat dari program pembangunan. (C7)





