Papua Selatan

Festival Kali Maro Jadi Ruang Anak Muda Marind Menjaga Warisan Budaya

Avatar photo
×

Festival Kali Maro Jadi Ruang Anak Muda Marind Menjaga Warisan Budaya

Sebarkan artikel ini
Social Share

MERAUKE||Cendrawasi7, Festival Kali Maro menjadi ruang bagi generasi muda Marind untuk menjaga budaya sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas. Pemerintah Provinsi Papua Selatan berharap festival yang digerakkan anak-anak Marind ini terus berkembang hingga masuk jajaran 15 besar event nasional.

‎

‎Harapan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Selatan, Paskalis Prayitno, saat mewakili Gubernur Apolo Safanpo pada pembukaan Festival Kali Maro, Kamis (1/10/2026).

‎

‎Festival berlangsung selama lima hari, pada 1–5 Oktober 2026, di Kawasan Yonggo, Dusun Serapuh, Kampung Urumb, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke.

‎

‎“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena Festival Kali Maro ini dilaksanakan dan digerakkan oleh anak-anak Marind,” ujar Paskalis.

‎

‎Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan budaya Marind. Karena itu, pemerintah provinsi mendukung anak-anak muda untuk berkembang sesuai kapasitas dan kemampuan mereka.

‎

‎Dukungan tersebut, kata Paskalis, akan terus diberikan untuk kegiatan yang bermanfaat bagi pengembangan generasi muda dan pelestarian budaya, termasuk penyelenggaraan festival pada tahun-tahun berikutnya.

‎

‎“Ke depan, kegiatan ini tentu harus kita kembangkan secara lebih masif dan lebih baik lagi. Kita berharap Festival Kali Maro tidak hanya bertahan di jajaran 125 event terbaik, tetapi dapat berkembang dan masuk ke dalam jajaran 15 besar event nasional,” harapnya.

‎

‎Paskalis menyebut Festival Kali Maro telah masuk dalam jajaran 125 event terbaik Kharisma Event Nusantara (KEN). Capaian itu diharapkan menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan sekaligus memperluas pengenalan budaya Marind.

‎

‎Ia mengajak gereja, Yayasan Kali Maro Bangkit, pemerintah daerah, serta seluruh pihak yang terlibat untuk bersama-sama membina generasi muda yang menggerakkan festival tersebut.

‎

‎Kolaborasi itu, menurutnya, telah terlihat dalam penyelenggaraan Festival Kali Maro. Kegiatan melibatkan Pemerintah Provinsi Papua Selatan, Pemerintah Kabupaten Merauke, Yayasan Kali Maro Bangkit, serta gereja dengan Pastor Andreas Fanumi Projo sebagai salah satu inisiator.

‎

‎Selain melestarikan budaya dan adat Marind, kerja sama tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengenang peran para misionaris dalam proses memanusiakan manusia di wilayah ini.

‎

‎Dorong Festival Budaya di Empat Kabupaten

‎

‎Paskalis menegaskan, komitmen pelestarian budaya juga mencakup seluruh wilayah Papua Selatan, yakni Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat.

‎

‎Pemerintah, kata dia, memiliki kewajiban membina, menjaga, dan mendukung kegiatan budaya sebagai bagian dari kekayaan serta identitas masyarakat setempat.

‎

‎“Selain Festival Kali Maro yang kita laksanakan saat ini, pada tanggal 6 dan 7 Oktober mendatang kita juga akan melaksanakan Festival Budaya Pokman di Kabupaten Asmat yang telah dikenal hingga tingkat dunia,” kata Paskalis.

‎

‎Ia juga menyebut Festival Lima Raja Tifa di Merauke dan Festival Sejuta Rawa di Mappi sebagai bagian dari kekayaan budaya Papua Selatan yang perlu terus diperkenalkan.

‎

‎Paskalis berharap kabupaten lainnya memperoleh kesempatan serupa untuk membawa festival dan nilai-nilai budaya mereka ke tingkat nasional.

‎

‎Ia menyampaikan pesan Gubernur Apolo agar pemerintah daerah bersama kementerian terkait turut mengangkat potensi budaya di empat kabupaten tersebut.

‎

‎“Pemerintah Provinsi Papua Selatan berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pemerintah kabupaten, gereja, masyarakat adat, serta seluruh pihak yang terlibat, agar kegiatan-kegiatan budaya ini dapat terus dilestarikan dan dikembangkan menjadi event yang semakin berkualitas,” katanya.

‎

‎Ruang Persaudaraan dan Pesan Damai

‎

‎Paskalis berharap Festival Kali Maro menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, menghadirkan kegembiraan, serta menyampaikan pesan damai bagi masyarakat.

‎

‎“Selama lima hari ke depan, mari kita menikmati kedamaian, kegembiraan, dan kebersamaan di tempat ini. Kita berharap Festival Kalimaro dapat menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, memperkenalkan kekayaan budaya Marind, sekaligus membawa pesan damai bagi kita semua,” ujarnya.

‎

‎Ia menambahkan, kedamaian dapat terwujud apabila setiap orang yang hadir turut menjadi pembawa damai bagi sesama. (C7)

‎

‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page