Merauke || Cendrawasi7.com – Puluhan mahasiswa Universitas Musamus (Unmus) Merauke, Papua Selatan, menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Rektorat, Rabu (14/10/2026). Mereka mendesak pihak universitas segera menyelesaikan sejumlah persoalan di lingkungan kampus, mulai dari penanganan kasus kekerasan seksual, transparansi anggaran, hingga kepastian pelaksanaan wisuda dan pelantikan dekan.
Aksi yang diikuti sekitar 80 mahasiswa itu berlangsung sejak pukul 09.40 WIT. Massa yang sebelumnya telah berkumpul di lingkungan kampus bergerak menuju Gedung Rektorat Universitas Musamus di Jalan Kamizaun, Merauke, untuk menyampaikan tuntutan kepada pimpinan universitas.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa sejumlah spanduk bertuliskan “Mahasiswa Bukan Objek, Segerakan Perubahan”, “Mengutuk Keras Kekerasan Seksual yang Terjadi di Musamus”, serta “Evaluasi Kinerja Rektor Secara Total, Darurat Birokrasi”.
Jenderal Lapangan Aliansi Mahasiswa Unmus Bersatu, Fahmi Ahmah, mengatakan demonstrasi tersebut merupakan aksi jilid kedua yang dilakukan mahasiswa untuk mendesak pihak rektorat menindaklanjuti berbagai persoalan yang dinilai belum mendapatkan penyelesaian.
Menurut Fahmi, mahasiswa telah berkumpul sejak pukul 07.30 WIT untuk menyatukan aspirasi sebelum menyampaikannya secara langsung kepada pimpinan universitas.
“Sejak pukul 07.30 WIT kami sudah berkumpul di lingkungan kampus untuk menyampaikan berbagai tuntutan dan aspirasi mahasiswa kepada pihak rektorat Universitas Musamus,” ujar Fahmi kepada wartawan, Rabu (14/10/2026).
Salah satu tuntutan utama mahasiswa adalah evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS). Mahasiswa meminta pihak kampus lebih serius menangani kasus kekerasan seksual sekaligus memberikan sanksi tegas kepada pelaku sesuai ketentuan yang berlaku.
Fahmi menegaskan, keberadaan Satgas PPKS harus benar-benar memberikan rasa aman dan perlindungan bagi seluruh mahasiswa, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif universitas.
“Kami meminta evaluasi secara menyeluruh terhadap Satgas PPKS, termasuk pemberian sanksi tegas kepada pelaku kekerasan seksual di lingkungan kampus,” tegasnya.
Mahasiswa juga meminta pihak universitas menyampaikan informasi resmi mengenai tindak lanjut penanganan kasus tersebut, termasuk sanksi yang dijatuhkan kepada pelaku.
Selain persoalan kekerasan seksual, mahasiswa menyoroti transparansi penggunaan anggaran renovasi kantin kampus. Mereka meminta pihak universitas membuka informasi mengenai penggunaan anggaran, termasuk dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan bukti pelaksanaan pekerjaan.
Menurut Fahmi, pihak kampus sebelumnya telah menyampaikan bahwa kantin hasil renovasi mulai beroperasi pada Senin. Namun, mahasiswa menilai masih banyak kebutuhan fasilitas akademik yang belum mendapatkan perhatian memadai.
Salah satunya adalah ketersediaan ruang kelas bagi mahasiswa di sejumlah jurusan yang hingga kini dinilai belum memiliki kejelasan.
“Persoalan transparansi anggaran renovasi kantin menjadi salah satu tuntutan kami. Di sisi lain, masih ada fasilitas kampus, terutama pengadaan ruang kelas untuk seluruh jurusan, yang belum jelas,” katanya.
Mahasiswa juga mendesak adanya transparansi pengelolaan dana organisasi kemahasiswaan, penyediaan sekretariat organisasi, serta keterlibatan perwakilan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan kampus, termasuk terkait pengelolaan kantin.
Soroti Kepastian Wisuda dan Pelantikan Dekan
Tak hanya persoalan anggaran dan fasilitas, mahasiswa turut mempertanyakan kepastian pelantikan dekan definitif serta jadwal pelaksanaan wisuda Universitas Musamus.
Fahmi mengatakan, berdasarkan penjelasan yang diterima mahasiswa dari pimpinan universitas, pelantikan para dekan dijadwalkan berlangsung pada pekan berikutnya.
Sementara itu, pelaksanaan wisuda disebut akan tetap dilaksanakan pada Oktober 2026 sesuai kalender akademik universitas.
Meski demikian, mahasiswa meminta kepastian tanggal pelaksanaan wisuda karena banyak calon wisudawan dan keluarga mereka telah mempersiapkan diri untuk menghadiri kegiatan tersebut.
Bahkan, menurut Fahmi, sejumlah orang tua mahasiswa telah datang dari luar Papua, seperti Sumatra dan Jakarta, untuk menghadiri wisuda anak-anak mereka.
“Ada orang tua mahasiswa yang sudah datang dari luar Papua, seperti Sumatra, Jakarta, dan daerah lainnya. Bahkan, sebagian sudah berada di Merauke sejak beberapa bulan lalu karena sebelumnya mendapat informasi mengenai rencana wisuda,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, kata Fahmi, menjadi perhatian serius mahasiswa karena ketidakpastian jadwal wisuda dapat berdampak pada persiapan calon wisudawan maupun keluarga yang datang dari luar daerah.
Karena itu, mahasiswa meminta pihak universitas segera mengumumkan jadwal resmi agar tidak menimbulkan kebingungan di kalangan mahasiswa dan orang tua.
“Dari hasil penyampaian aspirasi hari ini, pihak pimpinan universitas menyampaikan bahwa wisuda akan dilaksanakan pada Oktober sesuai kalender akademik,” jelasnya.
Beri Tenggat Tujuh Hari, Ancam Demo Lebih Besar
Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menggelar dialog dengan jajaran pimpinan Universitas Musamus sekitar pukul 11.00 WIT.
Aspirasi mahasiswa diterima Wakil Rektor III Universitas Musamus, Dr. Antonius Nggewaka, bersama Wakil Rektor I Dr. Tobias Nggaruaka dan Wakil Rektor II Dr. Yenni Pintauli Pasaribu serta sejumlah dosen.
Sementara itu, Rektor Universitas Musamus, Dr. Ir. Daud Andang Pasalli, S.T., M.Eng., tidak hadir dalam pertemuan tersebut karena dilaporkan sedang berada di Bali.
Dalam dialog itu, mahasiswa kembali menyampaikan sejumlah tuntutan sekaligus meminta komitmen pihak universitas untuk segera melakukan pembenahan.
Setelah melalui pembahasan, mahasiswa memberikan tenggat waktu tujuh hari kepada pihak rektorat untuk menindaklanjuti seluruh aspirasi yang telah disampaikan.
Fahmi menegaskan, mahasiswa akan terus mengawal hasil pertemuan tersebut. Jika tidak ada tindak lanjut yang jelas dalam batas waktu yang diberikan, pihaknya memastikan akan kembali menggelar demonstrasi dengan jumlah massa lebih besar.
“Kami memberikan waktu kepada pihak kampus selama tujuh hari untuk menindaklanjuti aspirasi mahasiswa. Apabila tidak ada tindak lanjut yang jelas, kami akan kembali menggelar aksi demonstrasi jilid ketiga dengan jumlah massa yang lebih besar,” tegasnya.
Dialog antara mahasiswa dan jajaran pimpinan universitas kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan poin-poin tuntutan sekitar pukul 12.35 WIT.
Penandatanganan tersebut menjadi bagian dari hasil pertemuan antara perwakilan mahasiswa dan pihak universitas. Namun, mahasiswa menegaskan bahwa mereka tetap menunggu realisasi konkret dari seluruh tuntutan yang telah disampaikan.
Sekitar pukul 12.46 WIT, massa aksi membubarkan diri dengan tertib. Demonstrasi yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam itu berjalan aman dan kondusif.
Hingga aksi berakhir, belum diperoleh penjelasan terperinci dari pihak universitas mengenai langkah konkret dan jadwal penyelesaian masing-masing tuntutan mahasiswa, selain informasi terkait rencana pelantikan dekan dan pelaksanaan wisuda pada Oktober 2026. (C7)





