Papua Selatan

Lahan Terbatas di Tengah Lonjakan Kargo, Pelabuhan Merauke Siapkan Revitalisasi

Avatar photo
×

Lahan Terbatas di Tengah Lonjakan Kargo, Pelabuhan Merauke Siapkan Revitalisasi

Sebarkan artikel ini
Social Share

MERAUKE || Cendrawasi7 – Pelabuhan Merauke mulai bersiap menghadapi potensi lonjakan arus barang seiring berkembangnya Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan. Persiapan dilakukan setelah aktivitas pelabuhan menunjukkan tren peningkatan dengan pertumbuhan traffic rata-rata di atas 10 persen.

‎

‎General Manager PT Pelindo (Persero) Regional 4 Merauke, Muhammad Rasul Irmadani, mengatakan peningkatan aktivitas yang terjadi saat ini masih mampu ditangani. Namun, tantangan diperkirakan semakin besar ketika berbagai kegiatan PSN memasuki tahap produksi dan menciptakan muatan baru yang keluar maupun masuk melalui Merauke.

‎

‎“Sampai tahap sekarang peningkatan traffic sangat signifikan, rata-rata di atas 10 persen. Alhamdulillah masih bisa ter-handle. Nanti kalau sudah berproduksi, tentunya ada muatan baru juga melalui pelabuhan. Makanya kita harus melakukan persiapan-persiapan,” kata Rasul saat ditemui di Merauke. Senin (14/09/2026).

‎

‎Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah pengembangan Pelabuhan Merauke. Saat ini, rencana tersebut masih dalam proses penyusunan Rencana Induk Pelabuhan (RIP).

‎

‎Dokumen itu nantinya menjadi pijakan untuk menentukan arah pengembangan pelabuhan, baik dalam jangka pendek, menengah maupun panjang.

‎

‎“Pengembangan Pelabuhan Merauke ini masih dalam tahap penyusunan RIP. Itu sebagai dasar untuk menetapkan bagaimana pengembangan jangka pendek, menengah, dan panjang. Sementara masih berprogres dalam penyusunan,” ujarnya.

‎Lahan Sempit Jadi Tantangan

‎Dalam jangka pendek, Pelindo memproyeksikan revitalisasi dan perbaikan lapangan di dalam kawasan pelabuhan. Langkah tersebut diperlukan untuk mengoptimalkan fasilitas yang tersedia di tengah peningkatan aktivitas bongkar muat.

‎

‎Namun, ruang pengembangan menjadi tantangan tersendiri. Areal Pelabuhan Merauke yang relatif terbatas membuat Pelindo membutuhkan dukungan pemerintah daerah serta pemangku kepentingan lainnya.

‎

‎“Jangka pendeknya mungkin kita melakukan revitalisasi, perbaikan lapangan di dalam pelabuhan. Terkait pengembangan ini kita juga butuh dukungan pemerintah daerah karena areal kita sangat sempit,” katanya.

‎

‎Keterbatasan ruang juga berkaitan dengan aktivitas stuffing dan stripping kontainer yang hingga kini masih berlangsung di dalam kawasan pelabuhan. Padahal, jika aktivitas tersebut dapat dialihkan ke luar pelabuhan, ruang yang tersedia bisa lebih optimal digunakan untuk mendukung bongkar muat.

‎

‎Pemerintah daerah, kata Rasul, telah menyiapkan sejumlah alternatif. Salah satunya memanfaatkan lahan di kawasan Pelabuhan Perikanan untuk dikembangkan menjadi depo atau lokasi penampungan kontainer.

‎

‎Lahan tersebut nantinya berpeluang dikerjasamakan dengan perusahaan pelayaran maupun pihak lain yang berminat mengembangkan fasilitas pendukung logistik di luar kawasan Pelabuhan Merauke.

‎

‎“Pemerintah daerah juga sudah menyiapkan beberapa alternatif seperti di Pelabuhan Perikanan. Ada lahan yang nantinya bisa dikerjasamakan, baik dengan pelayaran atau siapa pun yang ingin membuat depo atau penampung di luar area pelabuhan,” jelasnya.

‎Antisipasi Nataru hingga Lebaran

‎Sementara itu, kondisi antrean kapal di Pelabuhan Merauke sejauh ini masih relatif normal. Waktu tunggu kapal bersifat dinamis karena dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari pasang surut air hingga kondisi lapangan.

‎

‎Meski demikian, Pelindo mulai mengantisipasi peningkatan aktivitas menjelang angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru), yang kemudian berlanjut menuju periode angkutan Lebaran.

‎

‎Persiapan tidak hanya dilakukan pada sisi fasilitas pelabuhan, tetapi juga mencakup kesiapan alat bongkar muat, sumber daya manusia hingga koordinasi dengan para pemilik barang.

‎

‎Koordinasi tersebut menjadi penting agar barang yang telah dibongkar dari kapal dapat segera dikeluarkan dari kawasan pelabuhan. Dengan demikian, penumpukan kargo yang berpotensi menghambat aktivitas bongkar muat dapat ditekan.

‎

‎Pertumbuhan traffic di atas 10 persen menjadi sinyal bahwa kapasitas Pelabuhan Merauke perlu terus disiapkan. Terlebih, aktivitas PSN di Papua Selatan berpotensi menghadirkan arus logistik baru dalam skala lebih besar.

‎

‎Penyusunan RIP pun menjadi bagian penting untuk menentukan seperti apa Pelabuhan Merauke dikembangkan agar mampu mengikuti pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan distribusi barang di Papua Selatan. (C7)

‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page