CENDRAWASI7.COM
Sorong, Papua Barat Daya – Kasus dugaan korupsi di lingkungan Sekretariat DPR Provinsi Papua Barat Daya (DPRP PBD) memasuki babak baru. Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Papua Barat Daya resmi menaikkan penanganan perkara dari tahap penyelidikan ke penyidikan.
Perkara yang berkaitan dengan penggunaan anggaran Tahun Anggaran 2024 ini diduga menyebabkan kerugian negara sekitar Rp6,5 miliar.
Direktur Reskrimsus Polda Papua Barat Daya, Kombes Pol. Iwan P. Manurung, mengungkapkan, peningkatan status perkara dilakukan setelah penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup dari hasil penyelidikan selama kurang lebih enam bulan, sejak Januari hingga Juli 2026.
Peningkatan status perkara dilakukan setelah penyidik memperoleh bukti permulaan yang cukup dari hasil penyelidikan yang telah berjalan selama enam bulan,” kata Iwan dalam konferensi pers, Senin (27/7/2026).»
Dalam proses penyelidikan, penyidik telah memeriksa 43 saksi. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 orang di antaranya merupakan anggota DPR Papua Barat Daya, termasuk Ketua DPR Papua Barat Daya.
Kanit Tipidkor Subdit III Ditreskrimsus Polda Papua Barat Daya, Iptu Ihot R.P. Tampubolon, menyebut anggaran yang menjadi objek perkara mencapai sekitar Rp8 miliar. Sementara dana yang telah dicairkan tercatat sebesar Rp6.541.792.880.
Penyidik menduga adanya pekerjaan fiktif yang diduga digunakan untuk mengalihkan anggaran ke kegiatan lain. Polisi juga masih mendalami dugaan penggunaan dana untuk kegiatan reses maupun kegiatan lainnya yang tidak sesuai dengan peruntukannya.
Meski perkara telah resmi naik ke tahap penyidikan, Polda Papua Barat Daya belum menetapkan tersangka. Penyidik masih mengumpulkan dan mendalami alat bukti, termasuk menelusuri aliran dana untuk menentukan pihak yang nantinya dapat dimintai pertanggungjawaban hukum.
Polda Papua Barat Daya menegaskan proses penyidikan akan dilakukan secara profesional, transparan, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik dan dipastikan terus bergulir seiring pendalaman penyidik terhadap dugaan pekerjaan fiktif, penggunaan anggaran, serta aliran dana yang mencapai miliaran rupiah tersebut.
@Red





