Merauke||Cendrawasi7, Panglima Kodam (Pangdam ) XXIV/Mandala Trikora Mayjen TNI Frits Wilem Rizard Pelamonia, SE, menyoroti serius insiden penembakan kapal pengangkut logistik di Papua. Aksi tersebut dinilai berpotensi mengganggu pasokan bahan pokok bagi masyarakat, khususnya di wilayah Yahukimo yang sangat bergantung pada distribusi melalui jalur sungai.
Pernyataan itu disampaikan Pangdam saat ditemui di sela kegiatan di Hotel Swiss-Bel Merauke, Rabu (6/5/2026).
Peristiwa penembakan terjadi pada Senin lalu, ketika kapal yang membawa logistik—terutama beras—dalam perjalanan dari Merauke menuju Yahukimo. Jalur sungai menjadi satu-satunya akses utama distribusi barang ke wilayah tersebut, sehingga gangguan terhadap transportasi ini berdampak langsung pada kebutuhan masyarakat.
“Ini sangat kami sesalkan, karena yang menjadi sasaran adalah kapal logistik untuk masyarakat. Yahukimo sangat bergantung pada pasokan beras dari jalur itu,” ujar Pangdam.
Ia mengingatkan, jika distribusi logistik terganggu, potensi kelangkaan pangan dalam beberapa minggu ke depan tidak bisa dihindari.
Akses Terbatas, Respons Terkendala
Pangdam mengakui lokasi kejadian di Kampung Brasa cukup jauh dari pos TNI terdekat, dengan jarak mencapai puluhan kilometer. Kondisi geografis tersebut menjadi tantangan dalam merespons cepat setiap insiden di lapangan.
Meski demikian, TNI disebut terus memantau perkembangan situasi secara intensif. “Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun kami tetap meningkatkan kewaspadaan,” katanya.
Keamanan Asmat Dipastikan Terkendali
Terkait kekhawatiran meluasnya gangguan keamanan ke wilayah Asmat, Pangdam meminta masyarakat tidak panik. Ia memastikan TNI telah melakukan langkah antisipasi dengan menyiagakan personel di sejumlah wilayah, termasuk Asmat, Mappi, Boven Digoel dan Merauke.
Menurutnya, kelompok bersenjata diduga mulai mencari wilayah yang dianggap lebih aman setelah terdesak di daerah pegunungan.
Bantah Isu Kapal Bawa Intelijen
Pangdam juga membantah isu yang menyebut kapal logistik tersebut membawa anggota intelijen atau personel TNI. Ia menegaskan, informasi itu tidak benar.
“Itu penggiringan opini dari pihak lawan. Kapal tersebut murni membawa logistik untuk masyarakat,” tegasnya.
Rencana Pos TNI Terkendala Penolakan
Dalam upaya memperkuat pengamanan, TNI telah merencanakan pembangunan pos di wilayah Brasa. Namun, rencana tersebut sempat mendapat penolakan dari sebagian masyarakat setempat.
Pangdam menduga masih ada pihak-pihak yang terpengaruh kelompok separatis, sehingga menolak kehadiran aparat di wilayah tersebut.
Imbauan Hentikan Gangguan ke Warga
Di akhir pernyataannya, Pangdam mengimbau kelompok pelaku penembakan agar menghentikan aksi yang merugikan masyarakat sipil.
Ia mengajak mereka kembali ke kehidupan normal dan berkontribusi secara positif. “Kembali ke masyarakat, hidup layak, bertani, dan menjadi warga negara yang baik,” pungkasnya. (*)
