MERAUKE || Cendrawasi7 – Menjelang peringatan HUT Pelopor ke-67, Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda Papua menjadikan tradisi pencucian Tunggul “Satya Arkana Nirbaya” sebagai momentum memperkuat kembali komitmen personel menjaga kehormatan Korps Brimob Polri. Seluruh personel diingatkan menjauhi egoisme, kelalaian maupun pelanggaran yang dapat mencoreng nama baik kesatuan.
Pesan tersebut disampaikan Komandan Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda Papua Kompol Muhammad Basri saat memimpin tradisi pencucian Tunggul “Satya Arkana Nirbaya” di Aula Abama Mako Batalyon B Pelopor, Jalan Jawa, Kelurahan Karang Indah, Distrik Merauke, Papua Selatan, Jumat (11/9/2026) sore.
Basri menegaskan, pencucian tunggul bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi itu menjadi ruang refleksi bagi setiap personel untuk kembali mengingat nilai perjuangan, pengabdian dan kehormatan yang melekat pada Korps Brimob Polri.
“Tradisi penyucian tunggul ini bukan sekadar ritual seremonial tahunan yang bersifat mekanis. Kegiatan ini merupakan momentum sakral bagi kita semua untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur, daya juang dan kehormatan kesatuan,” ujar Basri.
Menurutnya, Tunggul “Satya Arkana Nirbaya” merupakan simbol kehormatan, kebanggaan sekaligus jati diri Batalyon B Pelopor. Di balik lambang tersebut tersimpan sejarah perjuangan, pengorbanan dan pengabdian para pendahulu Brimob yang harus terus dijaga oleh generasi penerus.
Karena itu, pencucian tunggul juga dimaknai sebagai upaya menyegarkan kembali semangat pengabdian sekaligus membersihkan diri dari sikap egois, kelalaian dan berbagai tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai Korps Brimob.
“Jangan pernah menodai lambang kesatuan ini dengan perbuatan-perbuatan yang dapat merusak citra Korps Brimob Polri,” tegasnya.
Basri mengatakan pesan tersebut semakin relevan di tengah tantangan tugas kepolisian yang terus berkembang. Tugas Polri, khususnya Korps Brimob, dinilai akan semakin kompleks dan dinamis sehingga membutuhkan personel yang solid, disiplin, loyal serta profesional.
Tradisi pencucian tunggul pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi pengingat bagi personel untuk terus meningkatkan kesiapan dalam menghadapi berbagai tugas di lapangan.
Selain profesionalitas, solidaritas internal juga menjadi perhatian. Basri mengingatkan seluruh personel untuk menjaga kekompakan dan menghindari sikap yang dapat merusak persatuan di dalam kesatuan.
Nilai tersebut tercermin dalam nama “Satya Arkana Nirbaya” yang menjadi pedoman bagi personel Batalyon B Pelopor.
“Satya” dimaknai sebagai kesetiaan seorang Bhayangkara kepada bangsa, negara dan pimpinan. “Arkana” menggambarkan pribadi yang tenang, berpikiran jernih, berhati tulus serta mampu menjaga kehormatan ketika berada di tengah masyarakat.
Sementara “Nirbaya” mencerminkan keberanian untuk tidak gentar menghadapi bahaya serta kesiapan berkorban demi masyarakat, keamanan dan ketertiban.
Secara keseluruhan, “Satya Arkana Nirbaya” menggambarkan sosok Bhayangkara yang setia kepada bangsa dan negara, tulus dalam pengabdian serta berani menghadapi setiap risiko dalam pelaksanaan tugas.
Prosesi pencucian tunggul diawali dengan menyanyikan Mars Pelopor, dilanjutkan penghormatan dan laporan komandan acara. Tunggul kemudian dibawa memasuki tempat upacara untuk menjalani prosesi pencucian.
Basri berharap nilai-nilai yang terkandung dalam tunggul tidak hanya diingat saat upacara, tetapi benar-benar diterapkan dalam sikap dan tindakan personel, baik ketika menjalankan tugas maupun saat berinteraksi dengan masyarakat.
Personel Brimob juga diminta terus memperkuat perannya sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat dengan mengedepankan sikap tangguh, responsif dan humanis.
Semangat pengabdian itu, kata Basri, harus tetap berpegang pada semboyan Korps Brimob Polri, “Jiwa Ragaku Demi Nusa dan Bangsa.”
Upacara pencucian Tunggul “Satya Arkana Nirbaya” dalam rangka HUT Pelopor ke-67 berakhir sekitar pukul 16.18 WIT. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan lancar. (C7)





