Papua Selatan

Jalan Semangga–Muramsari Disorot, PU Merauke: Progres 30–40 Persen, Target Rampung Desember

Avatar photo
×

Jalan Semangga–Muramsari Disorot, PU Merauke: Progres 30–40 Persen, Target Rampung Desember

Sebarkan artikel ini
Social Share

Merauke, Cendrawasi7.com – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Merauke menanggapi sorotan masyarakat terhadap proyek peningkatan Jalan Semangga–Muramsari. Progres fisik pekerjaan disebut mencapai sekitar 30–40 persen dan ditargetkan rampung pada Desember 2026.

‎

‎Kepala Dinas PUPR Kabupaten Merauke Leo P Mogot mengatakan pekerjaan saat ini masih berfokus pada lapisan fondasi menggunakan campuran tanah dan semen atau soil cement, serta pengecoran beton bahu jalan. Adapun pengaspalan menggunakan lapisan AC-WC belum dilakukan.

‎

‎“Kalau kita lihat dari pekerjaan konstruksinya, ini pekerjaan baru 30 sampai 40 persen. Karena volume terbesarnya itu di surface atau permukaannya itu, yang hotmix,” kata Leo saat dihubungi melalui telepon, Rabu (4/11/2026).

‎

‎Leo menjelaskan, proyek tersebut bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2026. Peningkatan ruas jalan itu merupakan tindak lanjut atas usulan masyarakat untuk mendapatkan akses jalan yang lebih baik.

‎

‎“Peningkatan jalan Muramsari ini bersumber dari dana DAK tahun anggaran 2026, yang memang diusulkan atau dikerjakan berdasarkan usulan masyarakat sendiri,” ujarnya.

‎

‎Menurut Leo, pagu anggaran proyek tersebut sekitar Rp9 miliar. Setelah melalui proses tender, nilai kontraknya menjadi Rp8 miliar lebih. Ia belum merinci nilai pasti kontrak pekerjaan itu.

‎

‎Menanggapi kondisi jalan yang menjadi sorotan, Leo menjelaskan bahwa lapisan fondasi dan beton bahu jalan masih membutuhkan waktu untuk mencapai kekuatan yang dipersyaratkan. Karena itu, konstruksi yang sedang dikerjakan belum siap menerima beban kendaraan berat.

‎

‎“Karena pekerjaannya masih dalam pekerjaan konstruksi, yang tentu saja baik LPA dalam bentuk soil cement maupun untuk bahu jalan cor beton itu belum bisa diganggu atau belum bisa diberi beban muatan kendaraan,” jelasnya.

‎

‎Ia mengatakan kendaraan bermuatan berat yang melintas sebelum konstruksi siap berisiko menyebabkan keretakan dan kerusakan pada lapisan fondasi.

‎

‎Untuk membatasi kendaraan yang melintas, Dinas PUPR telah memasang palang pada ruas yang sedang dikerjakan. Namun, menurut Leo, palang tersebut dibuka oleh sebagian pengguna jalan sehingga kendaraan berat tetap melewati lokasi pekerjaan.

‎

‎“Kami sudah palang, tetapi masyarakat pengguna jalan, khususnya yang bermuatan berat seperti truk, mereka buka palangnya itu. Nah, kalau dibuka palangnya, pasti jalannya akan retak. Karena itu soil cement,” ujarnya.

‎

‎Leo meminta masyarakat mematuhi pembatasan sementara tersebut. Menurutnya, dukungan pengguna jalan diperlukan untuk menjaga kualitas konstruksi hingga ruas itu dinyatakan siap dilalui.

‎

‎“Kami juga mengharapkan masyarakat menyadari ini untuk sama-sama kita menjaga kualitas jalan kita, untuk tidak melalui dulu jalan ini sampai dengan persyaratan pemuatan itu kita buka atau kita berikan akses untuk itu,” katanya.

‎

‎Terkait realisasi keuangan, Leo menyebut pencairan proyek sejauh ini baru berupa uang muka. Sementara pembayaran berdasarkan progres fisik belum dilakukan.

‎

‎Leo juga mengapresiasi kritik dan masukan masyarakat sebagai bagian dari pengawasan pembangunan. Ia berharap keluhan terkait pekerjaan jalan turut disampaikan langsung kepada Dinas PUPR agar dapat ditindaklanjuti.

‎

‎“Kami sebagai pelayan masyarakat tentunya menyadari kami bukan instansi atau manusia yang sempurna,” ujarnya.

‎

‎Meski masih dalam tahap pengerjaan, Leo optimistis peningkatan Jalan Semangga–Muramsari dapat diselesaikan sesuai target pada Desember 2026.

‎

‎“Target penyelesaian pekerjaannya itu sampai dengan Desember,” katanya. “Dipastikan akan rampung.” (C7)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page