MERAUKE || Cendrawasi7 – Gala Siswa Indonesia (GSI) Tingkat Provinsi Papua Selatan 2026 untuk pertama kalinya digelar. Namun, kompetisi sepak bola pelajar tingkat SMP/sederajat tersebut belum diikuti perwakilan dari seluruh kabupaten di Papua Selatan.
Dari empat kabupaten yang ada, baru Merauke dan Boven Digoel yang mengirimkan peserta. Sementara Kabupaten Mappi dan Asmat belum ambil bagian.
GSI Papua Selatan 2026 berlangsung di Lapangan Sepak Bola Kodim 1707/Merauke selama lima hari, mulai Senin (7/9/2026) hingga Jumat (11/9/2026).
Ketua Panitia GSI Papua Selatan 2026, Oliva Koneng, S.Pd., M.Pd., mengatakan total 100 pelajar mengikuti kompetisi tersebut.
Peserta terdiri atas 60 pelajar asal Kabupaten Merauke dan 40 pelajar dari Kabupaten Boven Digoel.
Meski belum diikuti empat kabupaten, pelaksanaan perdana GSI menjadi langkah awal Pemerintah Provinsi Papua Selatan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam menjaring talenta sepak bola usia sekolah.
Para pemain tidak hanya bersaing membawa timnya meraih kemenangan. Penampilan mereka juga dipantau untuk menemukan pemain potensial yang dapat dikembangkan menuju jenjang lebih tinggi.
Dalam pelaksanaannya, panitia menyiapkan lima anggota tim talent scouting untuk melakukan penilaian dan seleksi terhadap pemain yang tampil sepanjang kompetisi.
Selain itu, GSI melibatkan 10 wasit, enam match commissioner dan 10 ball boy.
Rangkaian kegiatan mencakup registrasi dan verifikasi peserta, technical meeting, pertandingan, penilaian dan seleksi pemain, pembinaan karakter dan sportivitas hingga penentuan pemenang.
Gubernur Ingatkan Sportivitas
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Pemerintah Provinsi Papua Selatan, Agustinus Joko Guritno, menegaskan GSI tidak boleh hanya dipandang sebagai ajang mengejar gelar juara.
Menurutnya, olahraga menjadi bagian penting dalam membangun karakter, kedisiplinan, kerja sama, kepercayaan diri dan persaudaraan di antara pelajar.
“Bertandinglah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan kehilangan persaudaraan. Berjuanglah untuk menjadi juara, tetapi jangan mengorbankan sportivitas. Kejar prestasi setinggi-tingginya, tetapi tetap rendah hati,” pesan Apolo kepada peserta.
Ia menilai pendidikan tidak hanya berlangsung melalui kegiatan belajar di ruang kelas. Sekolah juga perlu memberikan ruang bagi peserta didik untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang dimiliki, termasuk di bidang olahraga.
“Pendidikan membentuk kecerdasan, olahraga membentuk ketangguhan, dan karakter menentukan masa depan,” ujarnya.
Apolo juga meminta para pelajar tidak patah semangat ketika mengalami kekalahan. Sebaliknya, mereka yang berhasil meraih kemenangan diminta tidak cepat berpuas diri.
“Medali boleh berkilau, tetapi karakter harus lebih bersinar,” pesannya.
Nilai sportivitas yang diperoleh selama kompetisi, kata Apolo, diharapkan tidak berhenti di lapangan sepak bola. Para pelajar diminta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan rajin belajar, menghormati guru dan orang tua, menjaga persahabatan serta menjauhi kekerasan dan perilaku negatif.
“Saya ingin melihat anak-anak Papua Selatan bukan hanya menjadi juara di lapangan, tetapi juga menjadi juara dalam kehidupan,” katanya.
GSI Papua Selatan 2026 dibiayai melalui APBD pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan.
Sebagai penyelenggaraan perdana, kompetisi ini diharapkan menjadi fondasi pembinaan sepak bola pelajar yang berkelanjutan sekaligus membuka jalan bagi talenta muda Papua Selatan untuk bersaing hingga tingkat nasional. (*)





