Papua Selatan

Dorong Ekonomi Masyarakat Pesisir, DLHKP Papua Selatan Gelar Pelatihan Olahan Mangrove

Avatar photo
×

Dorong Ekonomi Masyarakat Pesisir, DLHKP Papua Selatan Gelar Pelatihan Olahan Mangrove

Sebarkan artikel ini
Social Share

Merauke||Cendrawasih7, Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanahan (DLHKP) Provinsi Papua Selatan terus memperkuat upaya pemberdayaan masyarakat pesisir melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu yang bernilai ekonomi. Komitmen tersebut diwujudkan dengan menggelar Pelatihan Pengolahan Sirup dan Tepung Mangrove bagi Kelompok Tani Hutan (KTH) Ngganggul di Hotel MBS, Merauke. Selasa (01/07/2026).

‎Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti 21 peserta, terdiri atas 11 perempuan dan 10 laki-laki yang merupakan anggota KTH Ngganggul dari kawasan pesisir Pantai Payum, Kelurahan Samkai. Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanahan Provinsi Papua Selatan, Jujuk Riyanto.

‎Turut hadir sebagai narasumber Suryani Aprian dan Ria Putri Pratiwi dari UPTD KPH Produksi Unit XVII Waropen, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, yang akan membekali peserta dengan teori dan praktik pengolahan buah mangrove menjadi berbagai produk bernilai jual.

‎Dalam sambutannya, Jujuk Riyanto menegaskan bahwa kawasan pesisir Papua Selatan memiliki potensi mangrove yang sangat melimpah. Namun, potensi tersebut selama ini belum dimanfaatkan secara optimal karena buah mangrove masih sering dianggap tidak memiliki nilai ekonomi.

‎Padahal, melalui inovasi dan pengolahan yang tepat, buah mangrove dapat diubah menjadi beragam produk pangan, seperti sirup, tepung, hingga mie mangrove yang memiliki nilai tambah serta berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat pesisir.

‎”Melalui kreativitas, inovasi, dan penguasaan teknologi pengolahan, buah mangrove dapat diubah menjadi produk seperti sirup, tepung, hingga mie mangrove yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi alternatif pangan bergizi bagi masyarakat,” ujarnya.

‎Ia menekankan, pelestarian mangrove harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, menjaga kelestarian lingkungan bukan berarti membatasi ruang ekonomi warga, melainkan membuka peluang lahirnya usaha-usaha produktif yang berkelanjutan.

‎”Menjaga lingkungan bukan berarti membatasi kesejahteraan masyarakat. Justru dengan menjaga kelestarian mangrove, kita membuka peluang lahirnya usaha-usaha kreatif yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga,” katanya.

‎Selama pelatihan, para peserta akan dibekali pengetahuan mengenai teknik pengolahan buah mangrove yang aman dan higienis, sekaligus mengikuti praktik langsung pembuatan sirup, tepung, dan berbagai produk olahan lainnya. Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal untuk membangun usaha mikro berbasis potensi lokal.

‎Tak hanya berhenti pada pelatihan, DLHKP Papua Selatan juga berkomitmen memberikan pendampingan berkelanjutan kepada KTH Ngganggul, mulai dari peningkatan kualitas produk, pengemasan, hingga strategi pemasaran. Langkah ini diharapkan mampu melahirkan produk olahan mangrove khas Pantai Payum yang memiliki daya saing dan menjadi salah satu produk unggulan Papua Selatan.

‎Melalui program ini, pemerintah berharap masyarakat tidak lagi memandang mangrove hanya sebagai pelindung kawasan pesisir, tetapi juga sebagai sumber daya yang mampu memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kelestarian ekosistemnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page