CENDRAWASI7.COM
SORONG – Teriknya matahari dan musim kering membuat sejumlah pohon serta bunga di sepanjang Jalan Sorong–Klamono, tepatnya di depan Jalan Pariwisata, mulai membutuhkan perhatian.
Melihat kondisi itu, Ketua Yayasan Pondok Kasih Nusantara, Daniel Purwono, S.Th., M.Pd., C.PS., C.MS., C.HT., C.HLD., tidak tinggal diam.
Ia justru mengajak anak-anak Pondok Kasih Nusantara untuk turun langsung memperhatikan pohon dan bunga yang berada di sepanjang jalan tersebut.
Bukan untuk sekadar melihat.
Tetapi untuk peduli.
Dengan tangan-tangan kecil dan peralatan sederhana, anak-anak diajak membawa air dan menyiram pohon serta bunga yang mulai terdampak musim kering.

Pemandangan itu mungkin terlihat sederhana.
Namun di balik setiap tetes air yang jatuh ke tanah, ada sebuah pelajaran besar yang sedang ditanamkan: jangan pernah membiarkan kehidupan di sekitar kita layu hanya karena kita memilih untuk tidak peduli.
Daniel mengatakan, dirinya sengaja mengajak anak-anak melihat langsung kondisi pohon dan bunga di sepanjang jalan agar mereka belajar memiliki kepekaan terhadap lingkungan.
“Saya mengajak anak-anak untuk melihat pohon dan bunga yang ada di sepanjang jalan ini. Ketika mereka melihat ada yang mulai kering dan membutuhkan air, saya ingin mereka belajar bahwa kita tidak boleh hanya melihat lalu pergi. Kalau kita bisa melakukan sesuatu, mari kita lakukan,” ujar Daniel.
Menurutnya, kepedulian harus ditanamkan sejak dini. Anak-anak perlu diajarkan bahwa kasih bukan hanya diucapkan melalui kata-kata, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa kasih itu harus bergerak. Ketika melihat sesuatu yang membutuhkan pertolongan, jangan menunggu orang lain. Mulailah dari diri sendiri, walaupun hanya dengan tindakan kecil,” tegasnya.
Di tengah panasnya jalan Sorong–Klamono, anak-anak itu membawa pesan yang justru sering dilupakan oleh banyak orang dewasa.
Mereka tidak memiliki jabatan.
Mereka tidak memiliki kekuasaan.
Mereka tidak memiliki banyak harta.
Tetapi mereka memiliki sesuatu yang sangat berharga:
Hati yang mau peduli.
Satu per satu pohon dan bunga disiram. Air yang mereka bawa mungkin tidak mampu mengubah musim kering, tetapi kepedulian mereka telah menunjukkan bahwa tidak semua orang memilih untuk membiarkan kehidupan menghadapi kekeringan sendirian.
Daniel berharap kegiatan tersebut menjadi kebiasaan dan karakter bagi anak-anak Pondok Kasih Nusantara.
“Kami ingin mereka tumbuh menjadi generasi yang peka. Jangan hanya menjadi orang yang sukses untuk dirinya sendiri, tetapi jadilah manusia yang ketika melihat sesuatu di sekitarnya membutuhkan pertolongan, hatinya tergerak untuk melakukan sesuatu,” katanya.
Aksi sederhana itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan menyiram pohon.
Itu adalah pelajaran tentang kehidupan.
Bahwa ketika melihat sesuatu mulai layu, jangan hanya menjadi penonton.
Ketika melihat kehidupan membutuhkan perhatian, jangan hanya lewat.
Dan ketika kita masih mampu memberikan sedikit kebaikan, jangan menunggu menjadi orang besar untuk melakukannya.
Di tengah musim kering, anak-anak Pondok Kasih Nusantara telah memberikan sebuah pesan yang begitu dalam:
Mungkin kita tidak bisa mendatangkan hujan, tetapi kita selalu bisa membawa setetes kepedulian.”
Dan dari sepanjang Jalan Sorong–Klamono, tepat di depan Jalan Pariwisata, tangan-tangan kecil itu seakan sedang menyiram sesuatu yang jauh lebih besar daripada pohon dan bunga.
@REDAKSI





