InternasionalPapua Selatan

ABK Ungkap Detik-detik Penembakan Nahkoda KMN Sardi Utama 02 oleh Kelompok Bersenjata

Avatar photo
×

ABK Ungkap Detik-detik Penembakan Nahkoda KMN Sardi Utama 02 oleh Kelompok Bersenjata

Sebarkan artikel ini
Social Share

MERAUKE||Cendrawasi7, Kesaksian para anak buah kapal (ABK) mulai mengungkap kronologi penembakan yang menewaskan nahkoda KMN Sardi Utama 02, Akir alias Risal, di wilayah perairan Papua Nugini (PNG). Hingga kini, keberadaan jenazah korban masih belum diketahui setelah dibawa oleh kelompok bersenjata yang diduga menjadi pelaku penyerangan.

‎Akir merupakan nahkoda KMN Sardi Utama 02, kapal penangkap ikan berbendera Indonesia yang berangkat dari Kumbe, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada 30 Mei 2026 untuk melakukan aktivitas penangkapan ikan di perairan sekitar Laut Arafura.

‎Berdasarkan keterangan salah seorang ABK, Sanudin, peristiwa tersebut terjadi pada Selasa, 9 Juni 2026 sekitar pukul 10.30 WIT. Saat itu kapal berada di koordinat 07°56’350″ LS dan 144°16’450″ BT yang termasuk wilayah perairan Papua Nugini.

‎Menurut Sanudin, sebuah speedboat berwarna putih dengan lis kuning tiba-tiba mendekati kapal dari arah buritan. Speedboat tersebut ditumpangi enam orang pria bersenjata yang mengenakan pakaian serba hitam.

‎Melihat situasi mencurigakan itu, Sanudin segera memberitahukan kepada nahkoda yang berada di ruang kemudi. Namun ketika Akir menoleh ke luar untuk memastikan keberadaan speedboat tersebut, salah seorang pria bersenjata langsung melepaskan tembakan.

‎Peluru mengenai bagian dada kanan korban. Akir dilaporkan tewas seketika di ruang kemudi kapal.

‎Berdasarkan keterangan para ABK, tembakan tersebut dilepaskan tanpa adanya peringatan maupun komunikasi sebelumnya dari kelompok bersenjata tersebut.

‎Setelah nahkoda terjatuh, lima anggota kelompok bersenjata naik ke atas kapal dan mengambil alih situasi. Mereka memerintahkan seluruh ABK berkumpul di geladak kapal dalam posisi tiarap. Tangan para ABK kemudian diikat menggunakan tali jaring yang berada di atas kapal.

‎Tidak hanya melakukan penyanderaan, kelompok tersebut juga mengambil hasil tangkapan berupa ratusan gelembung ikan gulama serta sejumlah barang milik awak kapal. Barang-barang yang dibawa antara lain telepon genggam, dokumen identitas, pakaian, hingga barang pribadi lainnya.

‎Dalam kondisi tangan terikat, Kepala Kamar Mesin (KKM), Kellen, diperintahkan masuk ke ruang kemudi untuk menghidupkan mesin kapal. Saat itulah ia melihat nahkoda telah tergeletak bersimbah darah.

‎Kellen memastikan Akir sudah tidak bernyawa. Tak lama kemudian, kelompok bersenjata memindahkan jenazah korban dari ruang kemudi ke speedboat mereka.

‎Sebelum meninggalkan lokasi, para pelaku sempat membersihkan bagian ruang kemudi kapal. Setelah itu, Kellen diperintahkan mengemudikan KMN Sardi Utama 02 menjauh dari lokasi kejadian.

‎Sesaat setelah kapal bergerak, kelompok bersenjata tersebut melepaskan satu kali tembakan peringatan ke udara sebelum akhirnya meninggalkan kapal nelayan Indonesia itu.

‎Sekitar pukul 15.00 WIT, ketika kapal telah berada cukup jauh dari lokasi penyerangan, para ABK berhasil mengaktifkan radio komunikasi dan mengirimkan sinyal darurat. Panggilan tersebut diterima oleh KMN Cahaya Arafah 77 yang kemudian datang memberikan pertolongan.

‎Karena tidak ada awak kapal yang mampu membawa KMN Sardi Utama 02 kembali ke Merauke, dilakukan pertukaran kru dengan kapal penolong. Namun, mengingat kondisi kapal dan pertimbangan keselamatan pelayaran, mereka memutuskan menunggu kapal lain untuk berlayar bersama menuju Merauke.

‎Pada 15 Juni 2026, KMN Sardi Utama 02 akhirnya berangkat pulang dengan pengawalan dua kapal nelayan lainnya. Setelah menempuh perjalanan sekitar empat hari, kapal tersebut tiba di Dermaga Kumbe, Merauke, pada Sabtu pagi, 20 Juni 2026.

‎Setibanya di Merauke, seluruh ABK langsung dimintai keterangan oleh aparat kepolisian perairan. Petugas juga melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kapal guna mengumpulkan bukti-bukti terkait penembakan tersebut.

‎Dari hasil pemeriksaan awal, petugas tidak menemukan bekas proyektil maupun lubang tembakan di ruang kemudi. Meski demikian, tim masih menemukan bercak darah yang telah mengering di lokasi yang diduga menjadi tempat korban tertembak.

‎Hingga saat ini, keberadaan jenazah Akir alias Risal masih menjadi misteri.

‎Pemerintah Kabupaten Merauke melalui Badan Perbatasan telah berkoordinasi dengan KBRI di Vanimo, Papua Nugini. Namun berdasarkan informasi yang diterima, aparat keamanan PNG masih belum berhasil menemukan pelaku penembakan maupun keberadaan jenazah korban.

‎Pemerintah Kabupaten Merauke terus mendorong adanya penjelasan resmi dari otoritas Papua Nugini terkait perkembangan penyelidikan kasus tersebut, termasuk upaya pencarian jenazah nahkoda KMN Sardi Utama 02 yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page