MAPPI, CENDRAWASI7.COM – Aksi pemalangan Jalan Trans Assue-Kepi di Kabupaten Mappi, Papua Selatan, akhirnya berhasil diselesaikan setelah aparat kepolisian turun tangan memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait kematian seorang warga yang sempat menimbulkan tanda tanya.
Pemalangan yang dilakukan warga di tiga titik wilayah Distrik Haju, tepatnya di sekitar Kampung Paghai dan Kampung Kerke, berhasil dibuka pada Jumat (23/10/2026).
Pembukaan akses jalan tersebut dilakukan secara persuasif oleh personel gabungan Polres Mappi tanpa mengedepankan tindakan represif.
Aksi pemalangan itu diduga dipicu ketidakpuasan masyarakat terhadap penanganan kasus penemuan jenazah Romanus Beker Erro (54), seorang petani asal Kampung Paghai.
Romanus sebelumnya ditemukan meninggal dunia di pinggir jalan kawasan Dusun Kabe, Kampung Paghai, pada Minggu (18/10/2026).
Penemuan jenazah tersebut memunculkan berbagai dugaan di tengah masyarakat. Pihak keluarga dan warga kemudian meminta kejelasan mengenai penyebab kematian korban.
Situasi itu berujung pada aksi pemalangan jalan yang menghambat akses transportasi masyarakat di jalur Trans Assue-Kepi.
### Polisi Kerahkan 40 Personel, Kedepankan Dialog dengan Warga
Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, Polres Mappi mengerahkan 40 personel gabungan yang dipimpin langsung Kabag Ops Polres Mappi, AKP Jainal Amrin.
Dalam pelaksanaannya, personel Polres Mappi turut dibantu anggota Polsek Haju dan Polsek Asgon.
Namun, alih-alih melakukan pembukaan paksa, aparat kepolisian memilih menemui keluarga korban dan masyarakat untuk memberikan penjelasan mengenai hasil penyelidikan.
Kapolres Mappi Kompol Suparmin melalui Kabag Ops AKP Jainal Amrin mengatakan, pihaknya telah menyampaikan hasil pemeriksaan medis dan penyelidikan kepada keluarga korban.
Berdasarkan hasil visum dan pemeriksaan luar terhadap jenazah, polisi menyebut tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.
”Kami tadi sudah bertemu langsung dengan keluarga korban. Kami berikan penjelasan dengan bukti visum dari rumah sakit dan hasil penyelidikan kami bahwa dalam pemeriksaan luar tidak ditemukan tanda kekerasan fisik, sehingga korban diduga meninggal dunia karena sakit,” ujar Jainal, Jumat (23/10/2026).
Penjelasan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya kepolisian meredam keresahan masyarakat sekaligus meluruskan berbagai dugaan yang berkembang setelah penemuan jenazah.
### Setelah Diberi Penjelasan, Warga Sukarela Buka Palang Jalan
Upaya dialog yang dilakukan aparat kepolisian akhirnya membuahkan hasil.
Setelah mendapatkan penjelasan mengenai hasil pemeriksaan medis dan penyelidikan, pihak keluarga bersama masyarakat bersedia membuka palang jalan secara sukarela.
Dengan dibukanya tiga titik pemalangan tersebut, akses transportasi di jalur Trans Assue-Kepi kembali dapat dilalui masyarakat.
Pembukaan jalan ini sekaligus diharapkan dapat memulihkan aktivitas warga, termasuk mobilitas dan kegiatan perekonomian yang sebelumnya terganggu akibat pemalangan.
AKP Jainal Amrin mengapresiasi sikap kooperatif keluarga korban dan masyarakat yang bersedia menyelesaikan persoalan melalui komunikasi dan musyawarah.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh personel gabungan yang telah menjalankan tugas dengan mengedepankan pendekatan humanis.
”Kami sangat mengapresiasi kerja keras dan dedikasi seluruh anggota gabungan yang telah bersabar mengedepankan pendekatan humanis,” katanya.
”Kami juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang mendalam kepada pihak keluarga dan seluruh lapisan masyarakat yang sudah paham, mengerti, dan mau menerima penjelasan resmi dari kami secara bijak, sehingga blokade palang jalan ini dapat dibuka kembali dengan sukarela demi kepentingan bersama,” pungkasnya.
Penyelesaian pemalangan jalan tersebut menjadi contoh pentingnya komunikasi antara aparat kepolisian dan masyarakat dalam menangani persoalan yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban umum. (C7)





