Papua Selatan

7 Titik Api Kembali Muncul di TN Wasur, Petugas Dikerahkan hingga Opsi TMC Dikaji

Avatar photo
×

7 Titik Api Kembali Muncul di TN Wasur, Petugas Dikerahkan hingga Opsi TMC Dikaji

Sebarkan artikel ini
Social Share

MERAUKE || Cendrawasi7 – Kebakaran kembali terdeteksi di kawasan Taman Nasional (TN) Wasur, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Setelah sempat nihil selama beberapa jam, pemantauan satelit kembali mendeteksi tujuh titik api pada Rabu (16/9/2026) malam.

‎Kepala Balai Taman Nasional Wasur, Acha Anis Sokoy, S.Hut., mengatakan pemantauan kebakaran dilakukan setiap hari melalui sistem pemantauan satelit Kementerian Kehutanan menggunakan aplikasi Sipongi. Pemantauan memanfaatkan tiga satelit utama dengan pembaruan data dalam rentang sekitar enam, delapan hingga 10 jam.

‎Menurut Acha, sehari sebelumnya titik panas di kawasan TN Wasur sempat tidak terdeteksi. Namun, kondisi tersebut hanya bertahan sekitar enam jam.

‎Pada Rabu sekitar pukul 19.00 WIT, hasil pemantauan kembali menunjukkan tujuh titik yang tersebar di sejumlah lokasi dalam kawasan TN Wasur.

‎Titik-titik tersebut antara lain terpantau di sekitar Kampung Kondo dan Tomerau, serta wilayah Kampung Tomer dan Onggaya di Distrik Naukenjerai. Dua titik lainnya terdeteksi di sekitar ruas Trans-Papua sebelum Kampung Yanggandur, Kilometer 55.

‎Dari sejumlah lokasi tersebut, titik di Kilometer 55 mendapat perhatian khusus. Berdasarkan pemantauan, titik itu masuk kategori high, yang mengindikasikan lokasi tersebut telah terdeteksi sebagai titik api atau fire spot, bukan sekadar titik panas.

‎Petugas Balai TN Wasur kemudian dikerahkan ke lapangan untuk melakukan pengendalian dan pemadaman. Penanganan dilakukan antara lain di Kilometer 55 serta kawasan setelah Samleber, Distrik Sota.

‎“Pagi ini mereka pergi untuk memastikan lagi, untuk finalisasi pengendalian api supaya tidak menyebar lebih luas,” ujar Acha.

‎Kemarau dan Angin Kencang Jadi Tantangan

‎Upaya memadamkan kebakaran di kawasan TN Wasur menghadapi sejumlah kendala. Kondisi ekosistem Merauke yang didominasi savana dan rawa menjadi tantangan tersendiri saat musim kemarau.

‎Rawa dan genangan yang biasanya menjadi sumber air kini banyak yang mengering. Kondisi tersebut membuat petugas kesulitan memperoleh pasokan air di sekitar lokasi kebakaran.

‎Untuk mendukung penanganan di lapangan, Balai TN Wasur mengandalkan dua unit mobil tangki untuk membawa air menuju lokasi. Petugas juga dibekali peralatan pemadaman berupa jet shooter yang dapat dibawa mendekati titik api.

‎Selain faktor alam, aktivitas manusia disebut masih menjadi salah satu pemicu kebakaran. Penggunaan api dalam berbagai aktivitas masyarakat berisiko memicu kebakaran apabila tidak dikendalikan.

‎Kondisi vegetasi yang mengering akibat kemarau, ditambah tiupan angin kencang, membuat api dapat menjalar dengan cepat. Dalam sejumlah kesempatan, situasi tersebut bahkan memaksa petugas melakukan pemadaman hingga malam hari dengan tingkat risiko lebih tinggi.

‎TMC Jadi Salah Satu Opsi

‎Di tengah kemarau yang melanda Merauke, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk mendukung penanganan kebakaran sekaligus mengurangi dampak kekeringan.

‎Acha menjelaskan, terdapat mekanisme penanganan darurat yang memungkinkan adanya dukungan sarana, termasuk penggunaan pesawat untuk membantu pemadaman maupun pelaksanaan TMC.

‎Namun, pelaksanaan TMC harus dikoordinasikan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Analisis teknis diperlukan untuk melihat kondisi atmosfer serta ketersediaan awan sebelum modifikasi cuaca dapat dilakukan.

‎Menurut Acha, persoalan yang dihadapi Merauke saat ini tidak hanya menyangkut kebakaran hutan dan lahan. Kemarau berkepanjangan juga berpotensi berdampak terhadap ketersediaan air hingga produksi pangan.

‎Karena itu, penanganan kekeringan dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh. Selain mencegah kebakaran meluas, langkah mitigasi juga diperlukan untuk mengantisipasi dampak kemarau terhadap ketersediaan air dan sektor pangan di Papua Selatan. (C7)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page