Merauke, Cendrawasi7.com – Sebanyak 15 peserta orang asli Papua mengikuti pelatihan tata boga yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan. Mereka dibekali keterampilan mengolah pangan hingga mengemas produk sebagai modal untuk merintis usaha.
Pelatihan tata boga merupakan bagian dari program kecakapan hidup atau life skill yang diikuti 115 peserta, seluruhnya orang asli Papua. Program ini mencakup lima bidang, yakni teknik pengelasan dengan 30 peserta, tata boga 15 peserta, tata busana 30 peserta, broadcasting 20 peserta, dan kecantikan 20 peserta.
Tata boga dan broadcasting menjadi dua pilihan baru dalam pelaksanaan program tahun ini.
Salah satu instruktur tata boga, Simon, mengatakan peserta mempelajari empat materi, yakni pembuatan sagu sep, teh herbal sarang semut, abon ikan gastor, serta nasi kuning dan empeng sarang semut.
“Jumlah peserta total untuk tata boga ini ada 15 orang. Dari 15 orang ini dibagi ke empat kelompok,” kata Simon saat ditemui di sela-sela pelatihan di kompleks Hotel Sunyday, Merauke, Selasa (13/10/2026).
Keempat kelompok tersebut didampingi empat instruktur. Setiap kelompok bergantian mempelajari materi yang berbeda agar seluruh peserta memperoleh keterampilan yang sama.
Simon menjelaskan, pergantian materi dilakukan pada hari berikutnya. Dengan pola tersebut, setiap peserta mendapat kesempatan mempraktikkan seluruh materi selama pelatihan yang berlangsung satu minggu.
Peserta juga terlibat langsung dalam setiap tahapan produksi, mulai dari mengolah bahan hingga mengemas produk.
“Di sini bisa kita lihat sendiri, mereka akan melakukan semua dari tahap awal sampai dengan tahap terakhir, yaitu packaging,” ujarnya.
Menurut Simon, praktik mendapat porsi 70 persen dalam pelatihan. Melalui pengalaman langsung itu, peserta diharapkan mampu mengembangkan keterampilannya menjadi usaha.
“Diharapkan ketika selesai pelatihan ini, mereka menjadi wirausaha-wirausaha muda yang ikut bersaing dengan pasar yang ada di Merauke,” katanya.
Simon menilai Merauke memiliki potensi pangan lokal yang bisa dikembangkan oleh generasi muda, termasuk orang asli Papua. Potensi tersebut perlu didukung dengan kesempatan belajar dan pendampingan agar dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Ia mengatakan peserta menunjukkan antusiasme selama dua hari pelatihan berlangsung. Mereka mulai mampu menjalankan praktik secara mandiri sesuai standar yang ditetapkan instruktur.
“Contohnya sekarang kami hanya memfasilitasi mereka, selanjutnya mereka yang kerjakan. Dan mereka mampu sesuai dengan standar yang kami tentukan,” ujarnya.
Simon berharap pelatihan ini membuka peluang bagi anak muda asli Papua untuk mengembangkan kemampuan dan membangun usaha. Keterampilan yang diperoleh diharapkan menjadi bekal untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan Papua Selatan. (C7)





