KesehatanPapua Selatan

HIV Ditemukan pada Anak Usia Sekolah, Guru di Merauke Dibekali Edukasi dan Deteksi Dini

Avatar photo
×

HIV Ditemukan pada Anak Usia Sekolah, Guru di Merauke Dibekali Edukasi dan Deteksi Dini

Sebarkan artikel ini
Social Share

MERAUKE || Cendrawasi7 – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Papua Selatan melibatkan guru untuk memperkuat edukasi dan pencegahan HIV serta infeksi menular seksual (IMS) di sekolah. Sebanyak 92 guru SMP dan SMA sederajat di Kabupaten Merauke mengikuti pelatihan yang digelar pada 21–24 September 2026.

‎

‎Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Papua Selatan, dr. Benedicta Herlina Rahanggiar, mengatakan langkah itu diperlukan karena kasus HIV tidak hanya ditemukan pada kelompok usia produktif. Menurutnya, ada pula kasus yang terdeteksi pada anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

‎

‎“Angka HIV/AIDS di Provinsi Papua Selatan cukup tinggi. Dari empat kabupaten, yang paling tinggi terutama Merauke dan Boven Digoel,” kata Herlina, Senin (21/9/2026).

‎

‎Herlina menilai masa remaja menjadi periode penting untuk memberikan informasi kesehatan yang benar. Rasa ingin tahu yang tinggi, kata dia, perlu diimbangi dengan pemahaman tentang HIV, IMS, dan perilaku berisiko.

‎

‎“Dinas Kesehatan Provinsi memandang intervensi di lingkungan sekolah melalui peran strategis Bapak dan Ibu Guru menjadi mutlak diperlukan,” ujarnya saat membuka kegiatan on the job training tersebut.

‎

‎Pelatihan diikuti 50 guru dari 25 SMA, SMK, dan MA, serta 42 guru dari 21 SMP di Kabupaten Merauke. Mereka dibekali kemampuan memberikan edukasi, konseling dasar, pendampingan, deteksi dini, dan rujukan bagi remaja yang menghadapi persoalan kesehatan maupun psikososial.

‎

‎Herlina berharap guru dapat membantu siswa membedakan fakta medis dari mitos tentang HIV. Sekolah juga diharapkan menjadi ruang yang aman bagi siswa untuk bertanya dan mencari bantuan tanpa takut dihakimi.

‎

‎Salah satu mitos yang masih perlu diluruskan, menurut Herlina, adalah anggapan bahwa HIV menular lewat berjabat tangan atau makan bersama. Ia menegaskan interaksi sosial sehari-hari seperti itu tidak menularkan HIV.

‎

‎“Anggapan bahwa tidak boleh berjabat tangan atau makan bersama penderita HIV itu tidak benar. Cara penularannya berbeda,” katanya.

‎

‎Selain edukasi di sekolah, Herlina menyoroti perlunya memperluas pemeriksaan HIV. Ia menjelaskan, kasus yang terjaring melalui program kesehatan lebih banyak ditemukan pada perempuan, terutama ibu rumah tangga. Namun, hal itu juga berkaitan dengan skrining yang rutin menyasar ibu hamil dan ibu menyusui, sementara jangkauan pemeriksaan pada laki-laki masih perlu diperkuat.

‎

‎Herlina mendorong masyarakat tidak takut menjalani pemeriksaan. IMS seperti gonore dan sifilis dapat diobati, sedangkan HIV dapat dikendalikan dengan terapi antiretroviral (ARV) yang dijalani secara teratur. Dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan, menurutnya, penting agar orang dengan HIV tidak mengalami stigma dan tetap mendapatkan pengobatan. (C7)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page