MERAUKE || Cendrawasi7 – Ketepatan mendiagnosis penyakit menjadi salah satu kunci menentukan pengobatan pasien. Prinsip inilah yang dibawa Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dan Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) di Merauke, Papua Selatan.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat 2026, ITB membekali tenaga kesehatan dengan penguatan kemampuan diagnosis penyakit infeksi, khususnya malaria, sekaligus mendorong penggunaan obat secara rasional.
Kegiatan yang digelar di Aula RSUD Merauke, Jumat (28/8/2026), tersebut merupakan kolaborasi ITB bersama Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Selatan, Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta EXEINS Health Initiative (EHI).
Salah satu mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, Fifi Fitriyah Masduki, mengatakan penguatan diagnosis dan ketepatan terapi menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
“Diagnosis itu harus tepat, terapinya juga tepat. Kita memberikan perkembangan terbaru tentang diagnostik dan bagaimana cara supaya pelayanan kepada masyarakat lebih tepat dan pengobatannya juga jauh lebih tepat,” kata Fifi saat ditemui di RS Bunda Pengharapan Merauke, Sabtu (29/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, tenaga kesehatan dan ATLM mendapatkan materi mengenai penggunaan obat rasional untuk penyakit infeksi, deteksi parasit malaria, penggunaan Rapid Diagnostic Test (RDT), pemeriksaan molekuler, hingga tata kelola sampel klinis.
Materi tersebut dirancang saling berkaitan. Kemampuan pemeriksaan laboratorium yang baik diharapkan menghasilkan diagnosis yang lebih akurat, sehingga tenaga kesehatan memiliki dasar yang kuat dalam menentukan terapi bagi pasien.
Malaria menjadi salah satu penyakit yang mendapat perhatian khusus. Persoalan malaria yang masih dihadapi Papua membuat kemampuan mendeteksi parasit secara tepat dinilai penting, tidak hanya untuk menentukan pengobatan pasien, tetapi juga mendukung upaya mencegah terjadinya resistensi obat.
Fifi yang memiliki kepakaran di bidang biokimia medis bersama Rahmat Mauludin dari Sekolah Farmasi ITB membawa pendekatan yang menghubungkan kemampuan diagnostik dengan ketepatan penggunaan obat.
Menurut Fifi, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen civitas akademika ITB agar ilmu pengetahuan dan kepakaran yang dimiliki perguruan tinggi dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“ITB mempunyai tujuan bahwa kami sebagai civitas akademika ITB itu harus berdampak bagi masyarakat luas. Salah satunya dengan pendanaan pengabdian kepada masyarakat, khususnya di daerah 3T,” ujarnya.
Program pengabdian tersebut telah berjalan selama empat tahun dengan lokasi berbeda. Sebelumnya, tim melaksanakan kegiatan serupa di sejumlah daerah, termasuk Timika dan Sabang. Merauke kemudian dipilih karena persoalan penyakit infeksi, terutama malaria, dinilai relevan dengan bidang kepakaran tim.
Rahmat Mauludin dari Sekolah Farmasi ITB mengatakan kegiatan di Merauke merupakan implementasi Tri Dharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Program itu didukung Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB.
Meski ITB tidak memiliki fakultas kedokteran maupun kesehatan masyarakat, menurut Rahmat, perguruan tinggi tersebut memiliki berbagai kepakaran yang dapat dikontribusikan untuk mendukung sektor kesehatan, termasuk laboratorium diagnostik dan penelitian penyakit infeksi.
“Kita mencoba untuk membantu masyarakat di Merauke ini, salah satu daerah yang disebut dengan 3T, supaya ITB bisa memberikan kontribusi di bidang kesehatan ini,” katanya.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah, rumah sakit, BRIN, dan mitra kesehatan juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Jejaring itu diharapkan dapat mempertemukan hasil riset dan kepakaran akademik dengan kebutuhan nyata pelayanan kesehatan di lapangan.
ITB pun membuka peluang agar kolaborasi di Merauke tidak berhenti setelah kegiatan tersebut. Hasil program akan dievaluasi untuk melihat kebutuhan serta peluang kerja sama lanjutan.
“Mudah-mudahan kita dapat membuat kerja sama lain, tidak hanya bidang kesehatan, misalkan bidang pendidikan dan bidang-bidang lain,” ujar Rahmat.
Melalui penguatan kemampuan tenaga kesehatan tersebut, hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan tidak sekadar menghasilkan data, tetapi dapat menjadi pijakan untuk menentukan diagnosis dan terapi yang lebih tepat bagi masyarakat. (*)





