Merauke||Cendrawasi7, Menuju Kampung Wanam bukan perjalanan yang sederhana. Dari Kota Merauke, personel dan material harus menempuh jalur laut, menghadapi ombak dan cuaca yang tak selalu bersahabat, sebelum melanjutkan perjalanan menuju kampung di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Perjalanan panjang itu membawa satu misi: menghadirkan pembangunan sekaligus harapan baru bagi masyarakat melalui TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun 2026 Kodim 1707/Merauke.
Kisah pengabdian itu bahkan dimulai sebelum para prajurit menginjakkan kaki di Wanam.
Pertengahan Juli 2026, kesibukan terlihat di Kodim 1707/Merauke. Berbagai kebutuhan diperiksa dan dikemas satu per satu. Kompor, panci, wajan hingga perlengkapan makan dipersiapkan untuk mendukung dapur lapangan selama personel menjalankan tugas.
Pada saat bersamaan, material pembangunan juga mulai dikumpulkan. Pasir, batu bata, semen, kayu, seng, besi, tripleks hingga gorong-gorong disiapkan untuk mendukung berbagai sasaran fisik.
Sebagian pasir dan bata bahkan harus dikemas ke dalam karung agar lebih mudah dibongkar dan diangkut ketika tiba di lokasi.
Bagi Satgas TMMD, membangun Wanam ternyata telah dimulai jauh sebelum palu pertama diketukkan dan cangkul pertama menghantam tanah.
Perwira Seksi Teritorial Kodim 1707/Merauke, Kapten Czi Sage, menyebut kesiapan logistik menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kelancaran TMMD. Terlebih, tidak seluruh kebutuhan material pembangunan tersedia di sekitar lokasi.
Menunggu Laut Bersahabat
Tantangan pertama datang dari alam.
Keberangkatan personel sempat menunggu kondisi laut membaik. Ombak yang tinggi membuat perjalanan menuju wilayah Distrik Ilwayab tak bisa dilakukan tergesa-gesa. Keselamatan menjadi pertimbangan utama.
Hingga Sabtu, 18 Juli 2026, sebanyak 123 personel Satgas TMMD akhirnya diberangkatkan dari Merauke menggunakan KM Sabuk Nusantara 114.
Mereka merupakan bagian dari 150 personel yang tergabung dalam Satgas TMMD Ke-129. Sebanyak 27 personel lainnya telah lebih dahulu berada di lokasi untuk melakukan persiapan.
Perlahan kapal meninggalkan Merauke.
Di atas laut, para prajurit tidak hanya membawa perlengkapan untuk bekerja. Mereka membawa misi pengabdian menuju sebuah kampung yang akan menjadi rumah mereka selama pelaksanaan TMMD.
Sekitar satu hari satu malam perjalanan ditempuh hingga rombongan tiba di Pelabuhan Kayu PT Dwi Karya Riksa Abadi, Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab, Minggu, 19 Juli 2026.
Namun perjalanan belum benar-benar berakhir.
Dari Wogekel, personel masih harus menempuh perjalanan darat sekitar delapan kilometer menuju Kampung Wanam.
Sebelum Membangun Rumah, Mereka Membangun Kepercayaan
Setibanya di Wanam, yang pertama dibangun bukan dinding rumah. Bukan pula MCK, sumur atau jembatan.
Yang lebih dahulu dibangun adalah kepercayaan.
Personel Satgas mendatangi kediaman Kepala Kampung Wanam. Mereka duduk bersama, berbincang dan memperkenalkan kehadiran Satgas kepada pemerintah kampung serta masyarakat.
Warga diajak terlibat karena TMMD bukan pekerjaan TNI seorang diri. Semangat gotong royong menjadi bagian penting agar pembangunan yang dilakukan juga melahirkan rasa memiliki di tengah masyarakat.
Kehadiran para prajurit mendapat sambutan hangat. Warga menyatakan siap bergotong royong mendukung setiap pekerjaan.
Sejak itulah hari-hari di Wanam berubah menjadi rangkaian kerja bersama.
Motor roda tiga yang sederhana menjadi salah satu kendaraan penting. Kendaraan itu mondar-mandir membawa material menuju titik-titik pembangunan. Di tengah keterbatasan sarana transportasi, motor roda tiga menjadi tulang punggung mobilitas Satgas di lapangan.
Prajurit dan warga kemudian mulai berbagi pekerjaan. Ada yang menggali tanah, mengangkat semen, memindahkan bata, menyiapkan kayu hingga mengerjakan konstruksi.
Sedikit demi sedikit, apa yang sebelumnya hanya tergambar dalam rencana mulai terlihat bentuknya.
MCK dan Sumur, Harapan Sederhana yang Berarti Besar
Salah satu sasaran yang dikerjakan adalah pembangunan fasilitas mandi, cuci dan kakus (MCK).
Tanah digali, pondasi dibuat, dinding mulai berdiri, lalu rangka atap dipasang secara bertahap.
Pembangunan dilakukan di sejumlah titik, termasuk untuk keluarga Cerelius Maiwend Hende, Rosina Yolmen dan Basilius Awabalik.
Bagi keluarga penerima manfaat, MCK bukan sekadar bangunan berdinding semen. Fasilitas itu berarti kesempatan menjalani kehidupan sehari-hari dengan sanitasi yang lebih layak, bersih dan sehat.
“Selama ini kami sangat membutuhkan fasilitas seperti ini,” ungkap Cerelius ketika pembangunan mulai dikerjakan.
Di titik lainnya, Satgas bersama masyarakat menggali sumur untuk mendekatkan sumber air bersih kepada warga.
Pekerjaan itu membutuhkan tenaga dan ketelitian. Tanah digali cukup dalam, material dipindahkan, kemudian buis beton diturunkan perlahan untuk memperkuat dinding sumur.
Basilius Awabalik menjadi salah seorang warga yang menaruh harapan besar terhadap pembangunan tersebut.
“Selama ini mencari air tidak mudah. Dengan adanya sumur ini kami sangat terbantu,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan betapa berharganya sebuah sumber air bagi keluarga di Wanam.
Apa yang mungkin dianggap biasa di wilayah perkotaan, bagi sebagian warga di kampung dapat berarti berkurangnya jarak dan tenaga yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Ketika Jembatan Kembali Menghubungkan Kehidupan
Pekerjaan Satgas kemudian menyentuh jembatan kayu yang menjadi salah satu jalur aktivitas masyarakat.
Usia membuat sejumlah bagian jembatan mengalami pelapukan. Kondisi tersebut membuat akses masyarakat menjadi kurang aman.
Jembatan lama kemudian dibongkar untuk diperbaiki.
Bagi masyarakat, keberadaan jembatan memiliki arti penting. Jalur itu mendukung mobilitas warga, membawa kebutuhan sehari-hari hingga membantu akses menuju berbagai pelayanan.
Fabianus Gebze, salah seorang warga, mengaku bersyukur ketika melihat jembatan tersebut mulai diperbaiki.
“Dulu jalan dan jembatan rusak, sekarang sudah diperbaiki. Terima kasih kepada bapak-bapak TNI,” katanya.
Di balik sebuah jembatan, ada kehidupan yang harus terus bergerak. Ada anak-anak yang membutuhkan akses, ada keluarga yang beraktivitas dan ada kebutuhan masyarakat yang harus dibawa dari satu tempat ke tempat lainnya.
Empat Hari Menunggu Material dari Merauke
Ketika pekerjaan mulai berjalan, tantangan logistik belum berakhir.
Material pembangunan yang diberangkatkan dari Merauke menggunakan KM Sumber Rejeki pada 22 Juli harus menempuh perjalanan laut sekitar empat hari sebelum tiba di Wanam pada 26 Juli 2026.
Kapal itu membawa semen, pasir, batu bata, kayu, seng, besi, tripleks, gorong-gorong, perlengkapan kerja hingga kebutuhan logistik lainnya.
Ketika kapal akhirnya tiba, personel Satgas bersama masyarakat langsung bergerak.
Material dibongkar, diangkut dan didistribusikan menuju setiap titik pembangunan.
Tak banyak waktu untuk berhenti.
Setiap karung semen yang tiba, setiap bata yang diturunkan dan setiap lembar seng yang dipindahkan berarti pekerjaan dapat kembali dipercepat.
Komandan Kodim 1707/Merauke sekaligus Dansatgas TMMD Ke-129, Letkol Inf Bayu Prabowo, S.I.P., menegaskan seluruh pembangunan diarahkan agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sasaran fisik TMMD di Wanam mencakup pembangunan MCK dan sumur galian, rehabilitasi rumah tidak layak huni, rehabilitasi fasilitas umum hingga perbaikan jembatan.
Namun perjalanan TMMD di Wanam kemudian menunjukkan bahwa membangun kampung tidak hanya dilakukan dengan semen, kayu dan besi.
Ada pembangunan lain yang tidak dapat diukur menggunakan meteran.
Ketika Layanan Kesehatan Mengetuk Pintu Rumah Warga
Di sela kesibukan mengerjakan sasaran fisik, personel kesehatan Satgas membawa pelayanan langsung ke rumah masyarakat.
Salah satunya dilakukan Sertu F. Komon yang tergabung dalam tim kesehatan Satgas TMMD. Pada 29 Juli 2026, ia mendatangi rumah Soter Bala Gesi.
Tidak ada ruang pemeriksaan khusus. Rumah warga menjadi tempat pelayanan.
Tekanan darah diperiksa. Luka dibersihkan dan dirawat. Obat-obatan diberikan kepada warga yang membutuhkan.
Pelayanan dilakukan secara door to door, terutama untuk membantu masyarakat yang kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan.
Letkol Inf Bayu Prabowo mengatakan pelayanan tersebut merupakan bagian dari upaya TMMD menyentuh kebutuhan masyarakat secara lebih luas.
“TMMD bukan hanya membangun sarana fisik, tetapi juga membangun kualitas hidup masyarakat. Melalui pelayanan kesehatan door to door ini, kami ingin memastikan warga mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan secara langsung,” ungkapnya.
Di Wanam, pengabdian itu akhirnya tidak selalu berbentuk bangunan.
Terkadang ia hadir melalui alat pengukur tekanan darah, obat-obatan, tangan yang membersihkan luka, serta langkah seorang petugas kesehatan yang mengetuk pintu rumah warga.
Dari Cangkul ke Ruang Kelas
Wajah lain TMMD terlihat di SD YPPK St. Pontianus Ngond We Ilwayab.
Serka Derek Y.R. berdiri di hadapan anak-anak sekolah. Kali ini tidak ada semen atau cangkul di tangannya. Ia mengajarkan Peraturan Baris Berbaris (PBB).
Anak-anak belajar berdiri tegap, mengikuti aba-aba, menjaga kekompakan dan bergerak bersama.
Namun pelajaran itu bukan semata-mata tentang baris-berbaris.
Melalui kegiatan tersebut, para siswa diperkenalkan pada nilai kedisiplinan, tanggung jawab dan kebersamaan. Wawasan kebangsaan juga diberikan dengan cara komunikatif dan sederhana agar mudah dipahami.
Pembangunan manusia kemudian berlanjut melalui sosialisasi berbagai program. Masyarakat mendapatkan edukasi hukum dan keamanan, informasi mengenai program pemerintah serta pendidikan.
Anak-anak juga diperkenalkan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pentingnya makanan bergizi untuk mendukung pertumbuhan serta kesehatan mereka.
TMMD pun bergerak dari lokasi pembangunan menuju rumah-rumah warga, kemudian masuk ke ruang kelas.
Merah Putih di Tengah Kampung
Memasuki Agustus, suasana berbeda mulai terasa di Wanam.
Merah Putih dan umbul-umbul mulai menghiasi kampung menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Prajurit dan masyarakat memasangnya bersama-sama.
Bagi warga, kegiatan sederhana tersebut membawa kesan tersendiri. Suasana kemerdekaan hadir di tengah kampung bersamaan dengan berlangsungnya TMMD.
Kebersamaan juga terlihat dalam kehidupan keagamaan.
Personel Muslim melaksanakan Sholat Jumat bersama masyarakat di masjid Kampung Wanam. Sementara personel Nasrani mengikuti Ibadah Minggu bersama warga di Gereja Santa Teresia.
Selepas bekerja, hubungan antara prajurit dan masyarakat semakin cair.
Mereka duduk bersama, bercengkerama dan saling bertukar cerita. Tentang kampung, kehidupan sehari-hari hingga harapan masyarakat terhadap masa depan Wanam.
Orang-orang berseragam loreng yang awalnya datang membawa program pembangunan perlahan menjadi bagian dari keseharian warga.
Mereka menjadi teman mengangkat material, teman menggali tanah, sekaligus teman berbincang ketika pekerjaan selesai.
Kedekatan itulah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan utama TMMD.
Ketika MCK memasuki tahap pemasangan rangka, pemlesteran dan pemasangan atap, masyarakat ikut membantu. Ketika sumur digali, warga berada di samping prajurit. Ketika material harus dipindahkan, tangan-tangan masyarakat ikut mengangkat.
Memasuki hari ke-18 pelaksanaan TMMD, progres salah satu pembangunan MCK telah mencapai sekitar 50 persen.
Sedikit demi sedikit, bangunan yang sebelumnya hanya ada dalam rencana mulai menjadi nyata.
Tarian Marind Menyambut Tim Wasev
Pada 7 Agustus 2026, Tim Pengendali Operasi Pengawasan dan Evaluasi (PJO Wasev) TMMD Ke-129 yang dipimpin Kolonel Inf Amarullah, S.H., tiba di Kampung Wanam.
Rombongan disambut masyarakat melalui tarian adat Marind. Mahkota dan pakaian adat dikenakan kepada Kolonel Amarullah sebagai bentuk penghormatan dan penerimaan masyarakat.
Tim kemudian melihat langsung berbagai sasaran pembangunan, mulai dari MCK, sumur galian, rehabilitasi rumah hingga gedung serbaguna.
Pengawasan tersebut membawa satu pesan penting: pembangunan tidak cukup sekadar selesai.
Kualitas harus dijaga agar fasilitas yang dibangun benar-benar dapat digunakan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Bagi masyarakat, kunjungan tersebut juga menjadi ruang untuk menyampaikan harapan agar perhatian terhadap Kampung Wanam tidak berhenti ketika program TMMD berakhir.
Sebab di balik satu MCK yang dibangun, ada keluarga yang berharap hidup lebih bersih dan sehat.
Di balik sumur yang digali, ada warga yang berharap mendapatkan air dengan lebih mudah.
Di balik jembatan yang diperbaiki, ada perjalanan masyarakat yang ingin dibuat lebih aman.
Dan di balik pelayanan kesehatan dari rumah ke rumah, ada warga yang merasakan bahwa pembangunan tidak selalu harus datang dalam bentuk bangunan.
Yang Akan Tinggal Setelah TMMD Berakhir
Itulah wajah TMMD Ke-129 Kodim 1707/Merauke di Kampung Wanam.
Sebuah pengabdian yang dimulai dengan perjalanan menembus laut, menghadapi cuaca, keterbatasan logistik dan medan yang tidak selalu mudah.
Perjalanan itu kemudian berlanjut dengan suara palu, cangkul yang menghantam tanah, motor roda tiga yang membawa material, sumur yang semakin dalam, MCK yang perlahan berdiri, jembatan yang kembali diperbaiki, petugas kesehatan yang mengetuk pintu rumah warga hingga canda prajurit bersama masyarakat selepas bekerja.
TMMD di Wanam pada akhirnya bukan hanya cerita tentang berapa MCK, sumur, rumah atau fasilitas umum yang berhasil dibangun.
Ia juga menjadi cerita tentang kebutuhan dasar yang perlahan dipenuhi, akses yang diperbaiki, kesehatan yang diperhatikan, anak-anak yang mendapatkan pengetahuan, serta hubungan manusia yang tumbuh di tengah proses pembangunan.
Kelak, ketika TMMD Ke-129 berakhir dan para prajurit meninggalkan Kampung Wanam, bangunan-bangunan yang mereka kerjakan bersama masyarakat akan tetap berdiri.
Sumur akan terus mengalirkan air. MCK akan digunakan keluarga. Jembatan akan kembali dilewati warga. Rumah dan fasilitas umum yang diperbaiki akan melanjutkan fungsinya.
Namun ada sesuatu yang diharapkan tinggal lebih lama daripada semen, kayu dan besi itu sendiri.
Yakni semangat gotong royong, rasa memiliki, kedekatan yang terbangun, serta kenangan tentang suatu masa ketika prajurit dan masyarakat pernah berdiri di tempat yang sama, mengangkat material yang sama dan bekerja bersama untuk satu tujuan: membangun harapan di Kampung Wanam, di ujung selatan Papua. (Udin Shiro)





